Pesawat Militer China Menyusup 159 Kali ke Taiwan dalam Sebulan!

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 12:43 WIB
Taiwan lives under the constant threat of invasion by China, which sees the self-ruled democratic island as part of its territory to be brought into its fold, by force if necessary (Handout Taiwans Defence Ministry/AFP/File)
Ilustrasi -- Pesawat China dikerahkan ke dekat wilayah Taiwan (Handout Taiwan's Defence Ministry/AFP/File)
Taipei -

Pesawat-pesawat militer China tercatat telah melakukan 159 penyusupan ke zona pertahanan udara Taiwan sepanjang bulan November ini. Aktivitas militer China itu tercatat sebagai aksi penyusupan tertinggi kedua ke dekat wilayah udara Taiwan dalam sebulan.

Seperti dilansir AFP, Rabu (1/12/2021), Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri terus-menerus berada di bawah ancaman invasi China, yang memandang Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan bersumpah akan merebutnya suatu hari nanti, bahkan dengan kekerasan jika perlu..

China terus meningkatkan tekanan, terutama tekanan militer, terhadap Taiwan sejak Presiden Tsai Ing-wen berkuasa tahun 2016. Tsai juga menolak penegasan bahwa Taiwan merupakan bagian dari 'satu China'.

Selama 14 bulan terakhir, ketegangan antara kedua pihak mencapai puncak terbaru setelah China mulai mengirimkan pesawat-pesawat militernya -- dengan jumlah yang terus meningkat -- ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan (ADIZ), yang sebelumnya dihindari oleh pesawat militer China.

Langkah eskalasi semacam itu meningkatkan kekhawatiran di kalangan sekutu-sekutu Barat, seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang, bahwa China bisa memerintahkan invasi ke Taiwan, meskipun mereka menganggapnya tidak mungkin untuk saat ini.

Pada Selasa (30/11) waktu setempat, Pentagon mengungkapkan rencana untuk memperkuat pengerahan dan pangkalan yang ditargetkan untuk China, meningkatkan dan memperluas fasilitas-fasilitas militer di Guam dan Australia.

Kementerian Pertahanan Taiwan mulai mengungkapkan ke publik soal aktivitas penyusupan pesawat-pesawat militer China mulai September 2020. AFP telah membangun database yang mengumpulkan detail soal aktivitas militer China tersebut, yang meningkat baik dalam jumlah maupun frekuensi.