Sekutu Dekat Duterte Mendadak Batal Jadi Capres Filipina

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 12:10 WIB
In this photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte wears a protective mask as he meets members of the Inter-Agency Task Force on the Emerging Infectious Diseases in Davao province, southern Philippines on Monday Sept. 21, 2020. Duterte says he has extended a state of calamity in the entire Philippines by a year to allow the government to draw emergency funds faster to fight the COVID-19 pandemic and harness the police and military to maintain law and order. (Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Rodrigo Duterte (dok. Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Manila -

Senator Filipina, Christopher Go, yang disebut-sebut bakal menjadi pengganti Presiden Rodrigo Duterte, mendadak mundur dari pencalonan dirinya dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun 2022. Go mundur sebagai capres Filipina dengan menyatakan 'belum waktu saya'.

Seperti dilansir AFP, Selasa (30/11/2021), Go yang merupakan sekutu dekat Duterte ini, mendaftarkan diri sebagai capres sekitar dua hari sebelum batas akhir pada 15 November lalu, setelah sebelumnya maju sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Mundurnya Go secara tiba-tiba semakin mempersempit kandidat yang akan menggantikan Duterte, yang dilarang secara konstitusional untuk maju periode kedua untuk masa jabatan enam tahun. Duterte telah mengumumkan dirinya mencalonkan diri sebagai Senator Filipina.

"Keluarga saya juga tidak menginginkannya jadi saya pikir mungkin ini belum waktunya untuk saya," ucap Go kepada wartawan setempat.

Disebutkan Go bahwa keputusannya mundur sebagai capres juga dimaksudkan untuk menghindari membuat 'lebih banyak masalah' untuk Duterte, yang dia sebut disayanginya sebagai 'lebih dari seorang ayah'.

"Saya tetap loyal padanya dan saya berjanji akan bersamanya selamanya," tegas Go. "Dalam beberapa hari terakhir, saya menyadari bahwa hati dan pikiran saya bertentangan dengan tindakan saya sendiri," imbuhnya.

Sebagian besar analisis memberi Go sedikit peluang untuk sukses dalam pilpres pada Mei tahun depan, meskipun dia menjadi kandidat yang paling mungkin untuk melindungi Duterte dari tuduhan kriminal di Filipina dan dari penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional terhadap perang narkoba yang mematikan.

"Sejak awal dia meluncurkan kampanye yang hangat-hangat kuku dan sangat jelas bahwa dia didorong ke dalam pekerjaan itu oleh Presiden Duterte," ucap profesor ilmu politik pada Universitas Filipina, Jean Franco.