Pemimpin Gereja Filipina Ancam 'Kutukan Abadi' Jika Korban Tolak Hubungan Seks

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 21 Nov 2021 15:24 WIB
FILE - FBI agents cover a fence on the grounds of the Kingdom of Jesus Christ Church in the Van Nuys section of Los Angeles on Jan. 29, 2020. Apollo Carreon Quiboloy, the leader of the Philippines-based church was charged with having sex with women and underage girls who faced threats of abuse and “eternal damnation” unless they catered to the self-proclaimed “son of God,
Foto: Gereja KOJC yang dipimpin Apollo Carreon Quiboloy yang menjadi terdakwa perdagngan seks di AS ( AP Photo/Richard Vogel,File)

Ancaman Kutukan Abadi

Dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS itu mencakup beragam dakwaan, mulai dari konspirasi, perdagangan seks anak, perdagangan seks dengan kekerasan, penipuan dan pemaksaan, kemudian juga penipuan pernikahan, pencucian uang, penyelundupan uang dan penipuan visa.

"Para korban mempersiapkan makanan Quiboloy, membersihkan kediamannya, memberikan pijatan dan diminta berhubungan seks dengan Quiboloy dalam apa yang disebut para pastoral (sebutan korban yang bekerja untuk Quiboloy-red) sebagai 'tugas malam'," sebut Departemen Kehakiman AS dalam keterangannya.

"Terdakwa Quiboloy dan pengurus KOJC lainnya memaksa para pastoral (korban-red) melakukan 'tugas malam' -- yaitu seks -- dengan terdakwa Quiboloy, dengan ancaman kekerasan fisik dan verbal dan kutukan abadi," imbuh Departemen Kehakiman AS.

Dakwaan jaksa federal AS menyebut skema perdagangan seks ini berlangsung selama setidaknya 16 tahun hingga tahun 2018.

Quiboloy dan terdakwa lainnya juga dituduh membawa para anggota gereja ke AS dengan visa pelajar yang diperoleh melalui penipuan atau pernikahan rekayasa. Mereka yang dibawa ke AS dipekerjakan untuk mendapatkan sumbangan bagi yayasan gereja yang berbasis di Glendale, Los Angeles.

Uang yang disalurkan untuk yayasan gereja bernama Children's Joy Foundation USA itu seharusnya bermanfaat bagi anak-anak miskin di Filipina. Namun menurut jaksa federal AS, uang itu disalurkan untuk membiaya operasi gereja dan mendanai gaya hidup mewah Quiboloy juga pengurus gereja lainnya.

Menurut dokumen yang diajukan FBI untuk dakwaan sebelumnya, setidaknya US$ 20 juta dikirimkan ke kantor pusat gereja KOJC di Filipina antara tahun 2014 hingga tahun 2019.

Tiga dari sembilan terdakwa dalam dakwaan AS itu telah ditangkap pada Kamis (18/11) waktu setempat. Namun Quiboloy yang diketahui memiliki kediaman di Hawaii, Las Vegas, dan pinggiran Los Angeles, diyakini kini berada di kota Davao, Filipina, bersama dua terdakwa lainnya.


(rdp/imk)