Jasad Korban Ditemukan 11 Tahun Setelah Bencana Tambang Selandia Baru

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 17 Nov 2021 16:04 WIB
A miner uses a hammer to crush rocks with ore at Tierra Amarilla town, near Copiapo city, north of Santiago, Chile, December 16, 2015. As copper prices have slid to a more than six-year low, miners laboring away at the countless smaller mines that pock mark the Atacama desert are finding the buckets of ore they spend all day digging from the ground are fetching less and less money.   Picture taken December 16, 2015. REUTERS/Ivan Alvarado
ilustrasi (Foto: REUTERS/Ivan Alvarado)

"Berdasarkan penyelidikan kami, kami yakin ada enam hingga delapan pria yang bekerja di daerah di mana jenazah itu ditemukan," imbuhnya.

Andrew Little, menteri yang bertanggung jawab atas operasi pencarian, mengatakan bahwa "tidak mungkin mereka akan dipindahkan... Saya tahu beberapa keluarga ingin melangkah lebih jauh tetapi itu tidak mungkin."

Keluarga korban mengatakan mereka berharap penemuan itu akan membantu upaya penuntutan.

"Kami telah berjuang keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkan keadilan bagi anak laki-laki kami, dan ini adalah bagian dari itu terjadi," kata Rowdy Durbridge, yang putranya Daniel tewas dalam ledakan itu.

Anna Osborne, yang suaminya termasuk di antara 29 penambang yang tewas, mengatakan "apa yang telah kita lihat mulai memberikan kejelasan nyata tentang apa yang terjadi di sana."

Keluarga orang-orang yang terperangkap dan terbunuh di tambang itu berjuang melawan pihak berwenang selama beberapa tahun untuk menemukan jasad-jasad itu.

Pada tahun 2017, pemerintah Selandia Baru setuju untuk mendanai operasi pencarian, tetapi operasi dihentikan pada bulan Maret tahun ini. Pemerintah menyatakan operasi telah berjalan sejauh 2,2 kilometer (sekitar 1,5 mil) dari pintu masuk tanpa hasil dan terlalu sulit dan terlalu mahal untuk melangkah lebih jauh.


(ita/ita)