Deretan Negara Eropa Kembali Diamuk Gelombang Corona

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 14 Nov 2021 06:57 WIB
Jakarta -

Sejumlah negara di Eropa mengalami kenaikan kasus Corona dengan angka tinggi. Padahal, sebelumnya negara itu sudah dianggap berhasil mengatasi pandemi Corona.

Dilansir dari AP News, Rabu (3/11), WHO mengatakan kasus baru melonjak 6% di Eropa dibandingkan dengan peningkatan 18% pada minggu sebelumnya. Sementara, jumlah infeksi baru mingguan di wilayah lain turun atau tetap sama.

Laporan itu menunjukkan penurunan paling tajam terlihat di Timur Tengah, di mana kasus baru menurun 12%. Sementara di Asia Tenggara dan Afrika terjadi penurunan sebanyak 9%.

Tingkat infeksi virus corona tertinggi sejauh ini terjadi di Eropa yang melaporkan sekitar 192 kasus baru per 100.000 orang. Pada peringkat kedua diikuti oleh Amerika, yang memiliki sekitar 72 kasus baru per 100.000 orang.

Republik Ceko, Polandia, dan negara-negara lain di Eropa Tengah dan Timur telah melaporkan lonjakan infeksi baru-baru ini. Peningkatan dalam kasus yang dikonfirmasi di seluruh Eropa sebagian besar terjadi di Inggris, Rusia, Turki dan Rumania.

Peningkatan paling dramatis dalam kematian terjadi dalam seminggu lalu adalah di Rusia. Di negara itu, ada lebih dari 8.100 kematian akibat Corona yang tercatat dan Ukraina dengan 3.800 kasus kematian.

Sementara di Hungaria, infeksi COVID harian meningkat lebih dari dua kali lipat dalam seminggu terakhir menjadi 6.268. Di negara itu, penggunaan masker hanya diwajibkan pada transportasi umum dan di rumah sakit.

Lalu di mana saja negara di Eropa yang diamuk gelombang Corona di pekan ini? Dihimpun detikcom, Minggu (14/11/2021), berikut ini daftarnya:

1. Jerman

Jerman sempat dipuji karena cepat tanggap menangani pandemi COVID-19. Namun, kini Jerman mengalami keterpurukan karena kasus Corona di negara itu terus melonjak.

Pada Kamis (11/11), waktu setempat, negara Eropa itu mencatat rekor lebih dari 50 ribu dalam sehari. Angka itu merupakan rekor tertinggi sejak pandemi.

Hal ini dikarenakan upaya vaksinasi Jerman berjalan lambat dan harus menghadapi skeptisisme vaksin yang keras kepala dalam populasinya. Hingga saat ini, 69,8% populasi di Jerman telah menerima satu vaksinasi COVID-19 dan 67,3% populasi telah divaksinasi lengkap. Ini kurang tinggi dibandingkan dengan 79,8% populasi Inggris di atas usia 12 tahun yang sekarang telah divaksinasi lengkap.

Pekan lalu, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengatakan, "Kita saat ini mengalami pandemi terutama di antara mereka yang tidak divaksinasi dan sangat masif." Dia pun mendesak warga Jerman untuk mendapatkan vaksin booster (penguat).

Beberapa negara bagian di Jerman yang paling parah lonjakan kasus Corona-nya, termasuk Saxony, Bavaria, dan yang terbaru Berlin, telah memberlakukan aturan pembatasan-pembatasan baru terhadap orang yang tidak divaksinasi di sebagian besar tempat-tempat umum dalam ruangan.

Diketahui, banyak warga Jerman yang tidak divaksinasi karena berada dalam kelompok usia yang secara statistik kemungkinan mengalami kasus Corona tidak terlalu parah. Namun, mereka masih bisa menularkannya ke orang lain yang berusia lebih tua dengan imun yang lebih lemah