Corona Naik Terus, Austria Akan Lockdown Warga yang Tidak Divaksin

Mutia Safira - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 16:23 WIB
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept
Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Tinggal hitungan hari lagi, pemerintah Austria akan menempatkan jutaan warganya yang tidak divaksinasi lengkap dalam kebijakan lockdown (penguncian). Hal tersebut diumumkan Kanselir Austria, Alexander Schallenberg seiring jumlah kasus infeksi Corona harian telah menyentuh rekor tertinggi dan adanya peningkatan pasien di unit perawatan intensif (ICU).

Dilansir dari kantor berita Reuters, Jumat (12/11/2021), statistik nasional Austria menunjukkan bahwa sekitar 65% populasi telah divaksinasi penuh. Menurut data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, Austria memiliki tingkat vaksinasi terendah di antara negara-negara Eropa Barat selain negara kecil Liechtenstein.

Banyak warga Austria skeptis terhadap vaksinasi, pandangan yang didorong oleh Freedom Party, partai terbesar ketiga di parlemen.

Di bawah rencana tambahan pemerintah yang disepakati pada bulan September, begitu 30% dari ruang ICU ditempati oleh pasien COVID-19, maka orang yang tidak divaksinasi akan ditempatkan di bawah lockdown dengan pembatasan pergerakan harian. Level saat ini telah mencapai 20% dan terus naik dengan cepat.

"Menurut rencana tambahan, kita sebenarnya hanya memiliki beberapa hari sampai kita harus memberlakukan lockdown bagi orang yang tidak divaksinasi," ucap Schallenberg pada sebuah konferensi pers, menambahkan bahwa tingkat vaksinasi Austria "sangat rendah".

Pemerintah Austria pada Jumat (12/11) waktu setempat menyatakan bahwa orang-orang yang tidak divaksinasi dilarang masuk restoran, bioskop, lift ski dan penyedia "layanan yang dekat dengan tubuh" seperti penata rambut.

"Lockdown untuk yang tidak divaksinasi berarti seseorang tidak dapat meninggalkan rumah kecuali mereka yang akan bekerja, berbelanja (untuk kebutuhan pokok), berjalan-jalan - tepatnya merujuk pada apa yang harus kita alami pada tahun 2020," kata Schallenberg mengacu ke lockdown nasional yang diterapkan pada tahun 2020.