Seruan Para Pemimpin Barat soal Kesepakatan Nuklir Iran di Sela KTT G20

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 31 Okt 2021 12:07 WIB
Pemerintah Iran menolak memberikan data dan gambar terkait reaktor nuklirnya ke badan pengawas PBB. Teknologi tersebut yang bikin AS dan badan atom dunia meradang.
Ilustrasi nuklir Iran (Foto: AP)
Jakarta -

Para pemimpin dari Amerika Serikat, Jerman, Prancis dan Inggris mendesak Iran untuk melanjutkan kepatuhan terkait kesepakatan nuklir 2015. Desakan ini disebut demi menghindari eskalasi berbahaya di masa depan.

Empat pemimpin negara tersebut berharap dapat membujuk Iran untuk menghentikan pengayaan uranium ke tingkat yang mendekati tingkat senjata. Mereka menginginkan solusi dari hasil negosiasi.

"Ini (kesepakatan) hanya akan mungkin jika Iran mengubah arah," kata Presiden AS Joe Biden, Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam pernyataan bersama, seperti dilansir Reuters, Minggu (31/10/2021).

"Kami menyerukan kepada Presiden (Ebrahim) Raisi untuk mengambil kesempatan ini dan kembali ke itikad baik untuk menyelesaikan negosiasi sebagai hal yang mendesak. Itulah satu-satunya cara pasti untuk menghindari eskalasi berbahaya," kata mereka setelah bertemu di sela-sela KTT G-20.

Kesepakatan agar Iran membatasi program nuklirnya sebenarnya telah tercapai dalam Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), perjanjian nuklir tahun 2015. Namun mantan presiden AS, Donald Trump secara sepihak menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan menjatuhkan sanksi embargo senjata dan ekonomi terhadap Iran.

Iran merespons langkah AS itu dengan secara bertahap melanggar kewajibannya yang diatur dalam perjanjian itu, dengan meningkatkan pasokan uranium yang diperkaya dan level pengayaannya -- sebelumnya dibatasi hanya 3,67 persen.

Merkel mengatakan dia sangat prihatin dengan pengayaan uranium Iran.

"Kami mengandalkan kembalinya Iran ke meja perundingan. Tetapi waktu terus berjalan. Pengayaan uranium terjadi di Iran dan ini sangat mengkhawatirkan kami," katanya di sela-sela pertemuan G20.

Iran pun menyepakati akan melanjutkan perundingan nuklir di Wina, Austria akhir November mendatang.

"Pembicaraan antara Iran dan negara-negara lainnya yang bertujuan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 telah dimulai pada April lalu, akan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada akhir November," kata tim perunding nuklir utama Iran pada Rabu lalu.

Saat Biden ditanya tentang pembicaraan nuklir dengan Iran, Biden hanya mengatakan: "Akan dijadwalkan untuk dilanjutkan".

Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan pertemuan di sela-sela G20 disarankan oleh Merkel dengan tujuan memberi para pemimpin kesempatan untuk meninjau kembali masalah-masalah tersebut sebelum dimulainya kembali pembicaraan di Wina.

"Keyakinan kami adalah jika Amerika Serikat dan Eropa bersatu dan Amerika Serikat dan seluruh P5+1 bersatu, solusi diplomatik adalah solusi terbaik untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir," kata pejabat itu, merujuk pada Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman.

(izt/knv)