AS Sebut Upaya Kesepakatan Nuklir Iran Berada pada Fase Kritis

Mutia Safira - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 15:51 WIB
FILE - In this Oct. 26, 2010 file photo, a worker rides a bicycle in front of the reactor building of the Bushehr nuclear power plant, just outside the southern city of Bushehr. Iran’s sole nuclear power plant has undergone a temporary emergency shutdown, state TV reported on Sunday, June 20, 2021. An official from the state electric energy company, Gholamali Rakhshanimehr, said on a talk show that the Bushehr plant shutdown began on Saturday and would last
ilustrasi pembangkit listrik bertenaga nuklir Iran (Foto: AP Photo/Mehr News Agency, Majid Asgaripour, File)
Jakarta -

Upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 saat ini berada pada "fase kritis", dan alasan Teheran untuk menghindari pembicaraan semakin menipis.

Hal tersebut disampaikan seorang pejabat Amerika Serikat (AS), seraya menyebut adanya peningkatan kemungkinan diplomasi, bahkan jika kesepakatan tersebut tidak dapat dicapai.

Dilansir dari kantor berita Reuters dan Arab News, Rabu (27/10/2021), Utusan Khusus AS untuk Iran, Robert Malley, menyatakan kekhawatirannya terhadap Teheran yang akan terus menerus menunda pembicaraan kembali. Meski begitu, dikatakannya bahwa AS memiliki cara-cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, dan akan menggunakannya jika perlu.

"Kita berada dalam fase kritis dari berbagai upaya untuk melihat apakah kita dapat menghidupkan kembali JCPOA," ujar Malley mengacu pada kesepakatan yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

"Kita telah menunda selama berbulan-bulan dan alasan resmi yang diberikan oleh Iran mengapa kita dalam penundaan ini semakin menipis," imbuhnya.

Malley menyebut bahwa AS masih bersedia untuk melakukan diplomasi dengan Iran, walau untuk melanjutkan perjanjian nuklir tersebut memiliki kemungkinan kecil, dan mempertimbangkan opsi lain untuk mencegah Iran mengembangkan bom.

Malley juga mengisyaratkan peluang ekonomi bagi kedua belah pihak jika Iran kembali ke perjanjian tersebut, di mana Teheran mengambil langkah-langkah untuk membatasi program nuklirnya, sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi dari AS, Uni Eropa dan PBB.

Simak video 'Iran: Pencabutan Sanksi AS Bukti Serius Perundingan Nuklir':

[Gambas:Video 20detik]