International Updates

Kisah Bayi Afghanistan Dijual Demi Sesuap Nasi, Myanmar Boikot KTT ASEAN

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 17:44 WIB
Ancaman gizi buruk kian nyata di Afghanistan. Kondisi perekonomian yang belum stabil membuat orang tua di negara itu mati-matian penuhi kebutuhan anak mereka.
ilustrasi (Foto: AP Photo)

Pada akhir Agustus, Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya kemudian menarik pasukan mereka setelah misi selama 20 tahun terakhir di Afghanistan. Pada September lalu, Taliban membentuk pemerintahan interim untuk memimpin Afghanistan, sembari menyatakan negara itu sebagai Emirat Islam.

Menteri Pertahanan Mullah Mohammed Yaqoob -- yang merupakan anak pendiri Taliban, Mullah Omar -- mengumumkan pembentukan pasukan bersenjata baru pada Minggu (24/10) waktu setempat, melalui pesan audio yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan.

- Pemimpin Junta Militer Tak Diundang, Myanmar Boikot KTT ASEAN

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) digelar tanpa kehadiran perwakilan Myanmar. Junta militer Myanmar menolak mengirim perwakilan setelah pemimpin junta militer tak diundang karena dianggap mengabaikan komitmen untuk meredakan kekacauan usai kudeta di negara itu.

Dua pekan lalu, para Menteri Luar Negeri dari negara-negara ASEAN menyepakati bahwa pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, tidak diundang ke KTT virtual ASEAN pada 26-28 Oktober.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (26/10/2021), ASEAN menyatakan akan menerima perwakilan non-politik dari Myanmar dalam KTT itu. Namun, pada Senin (25/10) waktu setempat, Myanmar menegaskan hanya akan menyetujui pemimpinnya atau menterinya untuk hadir.

Absennya Myanmar dalam KTT tidak disebutkan baik oleh Brunei Darussalam selaku Ketua ASEAN saat ini, maupun oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN saat pembukaan pertemuan virtual itu.

- Kisah Pilu Keluarga Afghanistan Kelaparan, Jual Bayi Rp 7 Juta!

Afghanistan yang kini dikuasai Taliban berada di ambang bencana besar, dengan keluarga-keluarga miskin yang sudah putus asa terpaksa menjual anak dan bayi mereka kepada orang lain. Salah satu keluarga di luar Herat mengakui terpaksa menjual bayi perempuannya seharga US$ 500 (Rp 7 juta).

Seperti dilaporkan BBC dan dilansir Mirror.co.uk, Selasa (26/10/2021), Program Pangan Dunia (WFP) pada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memperingatkan bahwa nyaris 1 juta anak di Afghanistan berisiko kelaparan.

Diungkapkan WFP bahwa jutaan orang bisa meninggal kecuali tindakan segera diambil untuk menyelamatkan 22,8 juta warga Afghanistan yang hampir mati kelaparan.

Afghanistan menghadapi blokade global untuk bantuan kemanusiaan sejak pasukan asing ditarik keluar dari negara itu. Berkuasanya kembali Taliban berujung pada tidak adanya pengakuan internasional dan tidak adanya lagi bantuan yang masuk ke Afghanistan.


(ita/ita)