Round-Up

Surat Peraih Nobel Malala ke Taliban Demi Pendidikan Siswi Afghanistan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 20:05 WIB
Malala Yousafzai menjadi sorotan saat dirinya ditembak pasukan Taliban pada 2012 lalu. Sempat jadi korban serangan, Malala tak gentar suarakan isu kemanusiaan.
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai mengirim surat ke Taliban. Dia mendesak agar pendidikan anak perempuan ke sekolah menengah di Afghanistan kembali diizinkan.

Yousafzai sendiri pernah ditembak oleh militan Taliban Pakistan saat masih sekolah. Yousafzai ditembak militan dari Tehreek-e-Taliban Pakistan, sebuah cabang dari Taliban Afghanistan, di kota kelahirannya di lembah Swat saat berada di bus sekolah pada tahun 2012.

Sekarang berusia 24 tahun, dia mengadvokasi pendidikan anak perempuan, dengan mendirikan organisasi nirlaba Malala Fund yang telah menginvestasikan US$ 2 juta di Afghanistan. Dia mengirim surat terbuka ke Taliban sebagai kelompok yang kini jadi penguasa baru Afghanistan.

Seperti dikutip dari kantor berita AFP, Selasa (19/10/2021), sudah satu bulan sejak Taliban merebut kekuasaan, melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah. Sementara untuk laki-laki tetap dibolehkan ke sekolah.

Taliban sendiri sudah mengklaim akan mengizinkan anak-anak perempuan kembali ke sekolah setelah memastikan keamanan dan pemisahan lebih ketat di bawah interpretasi mereka terhadap hukum Islam. Namun banyak yang meragukan janji Taliban itu.

"Kepada otoritas Taliban ... batalkan larangan de facto terhadap pendidikan anak perempuan dan segera membuka kembali sekolah menengah untuk anak perempuan," tulis Yousafzai dan sejumlah aktivis hak-hak perempuan Afghanistan dalam sebuah surat terbuka yang diterbitkan pada hari Minggu (17/10) waktu setempat.

Yousafzai meminta para pemimpin negara-negara Muslim menjelaskan kepada Taliban bahwa 'agama tidak membenarkan melarang anak perempuan pergi ke sekolah'.

"Afghanistan sekarang satu-satunya negara di dunia yang melarang pendidikan anak perempuan," demikian bunyi surat tersebut, yang juga ikut ditulis oleh kepala komisi hak asasi manusia Afghanistan di bawah pemerintah terdahulu yang didukung AS, Shaharzad Akbar.

Para penulis juga meminta para pemimpin dunia G20 menyediakan dana mendesak untuk rencana pendidikan bagi anak-anak Afghanistan. Petisi dukungan anak-anak perempuan itu kemudian muncul dan sudah ditandatangani lebih dari 640 ribu orang per Senin (18/10) kemarin.