Junta Myanmar Akan Bebaskan 5.000 Tahanan Anti-Kudeta

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 14:14 WIB
Senior General Min Aung Hlaing, commander-in-chief of the Myanmar Armed Forces, delivers a speech during the opening ceremony of Union Peace Conference in MICC 2 at NayPyiDaw on January 12, 2016.  Myanmar opposition leader Aung San Suu Kyi will address ethnic armed groups, organisers of a fresh round of peace talks said, after she outlined peace as a priority for her government when it takes power in March. AFP PHOTO / Ye Aung THU / AFP PHOTO / Ye Aung Thu
Jenderal Min Aung Hlaing (dok. AFP PHOTO/Ye Aung Thu)
Naypyitaw -

Junta militer Myanmar mengumumkan akan membebaskan lebih dari 5.000 tahanan. Para tahanan yang akan dibebaskan merupakan mereka yang dijebloskan ke penjara karena memprotes kudeta militer pada Februari lalu, yang melengserkan pemerintahan sipil Myanmar.

Seperti dilansir AFP, Senin (18/10/2021), pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, mengumumkan bahwa total 5.636 tahanan akan dibebaskan dalam rangka memperingati festival Thadingyut pada akhir Oktober ini.

Pengumuman ini disampaikan beberapa hari setelah Jenderal Min Aung Hlaing dikucilkan dari pertemuan negara-negara ASEAN. Dia tidak diundang dalam pertemuan puncak ASEAN terkait cara junta militer menangani krisis di Myanmar.

Myanmar dilanda kekacauan sejak kudeta terjadi dengan, menurut kelompok pemantau lokal, lebih dari 1.100 warga sipil tewas dalam penindakan tegas junta militer Myanmar terhadap mereka yang berbeda pendapat.

Disebutkan juga oleh kelompok pemantau lokal bahwa lebih dari 8.000 orang ditangkap terkait unjuk rasa anti-kudeta. Lebih lanjut, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik menyebutkan bahwa lebih 7.300 orang kini ditahan di berbagai penjara di wilayah Myanmar.

Dalam pernyataannya, Jenderal Min Aung Hlaing tidak menjelaskan lebih detail soal siapa saja tahanan yang akan dibebaskan. Otoritas penjara setempat juga belum memberikan pernyataan resminya.

Pada Juli lalu, otoritas Myanmar membebaskan lebih dari 2.000 demonstran anti-kudeta yang ditahan di berbagai penjara di negara tersebut. Di antara mereka yang dibebaskan terdapat para jurnalis yang kritis terhadap junta militer Myanmar.

Namun jurnalis lainnya masih ditahan oleh junta Myanmar, termasuk seorang jurnalis asal Amerika Serikat (AS) bernama Danny Fenster yang ditahan sejak 24 Mei.

Lihat juga video 'Sorotan Jokowi soal Konflik Myanmar Hingga Palestina di Sidang PBB':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/ita)