Lacak Asal-usul Corona, China Periksa Ratusan Ribu Sampel Darah di Wuhan

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 13 Okt 2021 16:50 WIB
A face mask-clad cyclist rides alongside a barricade separating a residential compound in Wuhan, Chinas central Hubei province on April 6, 2020, after some restrictions amid the COVID-19 coronavirus pandemic were eased in the city. (Photo by NOEL CELIS / AFP)
Ilustrasi -- Kota Wuhan yang menjadi lokasi awal terdeteksinya virus Corona di China (dok. AFP/NOEL CELIS)
Beijing -

Otoritas China bersiap memeriksa ratusan ribu sampel darah dari bank darah yang ada di kota Wuhan sebagai bagian dari penyelidikan asal-usul virus Corona (COVID-19). Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya seruan untuk transparansi terkait kemunculan awal virus mematikan tersebut.

Seperti dilansir CNN, Rabu (13/10/2021), sampel darah yang jumlahnya mencapai 200.000 buah, mencakup yang berasal dari bulan-bulan akhir tahun 2019, disebut pada Februari tahun ini oleh panel penyidik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai potensi sumber informasi penting yang bisa membantu menentukan kapan dan di mana virus Corona pertama menular ke manusia.

Sampel-sampel darah yang disimpan di Pusat Darah Wuhan dan diperkirakan mencakup tahun 2019 itu, disebut memberikan sampel jaringan real-time dari populasi yang luas di kota yang menjadi lokasi awal terdeteksinya virus SARS-CoV-2 pada manusia.

Sampel bank darah itu sengaja disimpan selama dua tahun, ujar sejumlah pejabat China, sebagai antisipasi jika diperlukan menjadi bukti dalam gugatan hukum terkait donor darah yang dilakukan.

Masa tunggu dua tahun itu akan segera berakhir untuk bulan-bulan penting seperti Oktober dan November 2019, masa yang diyakini sebagian besar pakar sebagai momen virus Corona pertama kali menginfeksi manusia.

Seorang pejabat Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) menuturkan kepada CNN, bahwa persiapan untuk pemeriksaan atau pengujian sampel-sampel darah itu tengah berlangsung. Pejabat NHC itu juga mengonfirmasi bahwa pemeriksaan akan dilakukan begitu masa tunggu dua tahun untuk sampel darah itu berakhir.

"Ini memberikan sampel real-time terdekat di dunia yang pernah kita lihat untuk membantu kita memahami waktu kejadian wabah," ucap peneliti senior untuk kesehatan global pada Dewan Hubungan Luar Negeri, Yanzhong Huang.

Associate Professor untuk epidemiologi pada Columbia University, Maureen Miller, menyatakan sampel-sampel darah itu 'benar-benar akan mengandung petunjuk-petunjuk penting'. Dia mendorong China untuk mengizinkan para pakar asing ikut mengamati proses pengujian sampel darah tersebut.

"Tidak akan ada yang mempercayai hasil apapun yang dilaporkan China kecuali setidaknya ada pengamat yang memenuhi kualifikasi," cetusnya.

Kepala tim kerja China dalam penyelidikan WHO, Liang Wannian, pertama kali mengatakan dalam konferensi pers pada Juli lalu bahwa China akan menguji sampel-sampel darah, sembari menyatakan bahwa begitu pakar China 'memiliki hasilnya, mereka akan mengirimkannya kepada tim pakar China dan asing'.

Saat itu Laing menyatakan bahwa jika sampel-sampel darah itu disimpan dengan benar, maka akan mengandung tanda-tanda penting dari antibodi pertama yang mungkin terbentuk dalam manusia terhadap virus Corona.

Dr William Schaffner dari Divisi Penyakit Menular pada Departemen Kedokteran Universitas Vanderbilt, menyebut sampel-sampel darah itu bahkan mungkin mengindikasikan siapa yang pertama terinfeksi, di mana dan berapa usia serta apa pekerjaan mereka.

"Menjadi praktik umum untuk melakukan de-identifikasi sampel-sampel itu. Jadi Anda bisa menguraikannya menjadi demografi dasar, usia, jenis kelamin, lingkungan tempat mereka tinggal. Semua data itu akan tersedia," sebutnya.

Schaffner menyarankan agar sampel-sampel itu bisa dibawa ke Jenewa, Swiss, atau tujuan netral lainnya, demi mengizinkan para pakar WHO ikut terlibat dalam pengujian.

(nvc/ita)