PBB Tunjuk Pelapor Khusus untuk Afghanistan

Mutia Safira - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 14:28 WIB
Taliban fighters stand guard in front of the Hamid Karzai International Airport, in Kabul, Afghanistan, Monday, Aug. 16, 2021. Thousands of people packed into the Afghan capitals airport on Monday, rushing the tarmac and pushing onto planes in desperate attempts to flee the country after the Taliban overthrew the Western-backed government. (AP Photo/Rahmat Gul)
Ilustrasi -- Situasi di Afghanistan usai Taliban berkuasa (dok. AP/Rahmat Gul)
Jenewa -

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjuk seorang pelapor khusus untuk Afghanistan yang akan menyelidiki tindak pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok Taliban dan pihak lainnya dalam konflik di negara itu. Penunjukan ini dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran dilanggarnya hak-hak sipil saat Taliban berkuasa.

Seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (8/10/2021), Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB pada Kamis (7/10) waktu setempat, meloloskan resolusi yang diusulkan Uni Eropa untuk memiliki Pelapor Khusus di lapangan pada Maret 2022. Langkah itu didukung para ahli PBB bidang analisis hukum, forensik dan hak-hak perempuan.

Dalam forum yang diikuti 47 negara anggota PBB, sebanyak 28 negara mendukung, 14 abstain dan lima menentang penunjukan Pelapor Khusus untuk Afghanistan itu. Diketahui bahwa China, Pakistan, Rusia, Eritrea dan Venezuela menentang resolusi tersebut.

"Ini merupakan langkah penting untuk memastikan pengawasan yang berkelanjutan, melalui seorang pakar yang berdedikasi dan independen, dan untuk membantu mencegah semakin buruknya situasi hak asasi manusia di Afghanistan," ucap Duta Besar Uni Eropa untuk PBB, Lotte Knudsen.

"Hak-hak perempuan dan anak perempuan menjadi perhatian khusus kami. Tindakan Taliban terhadap perempuan dan anak perempuan, dan pelanggaran hak-hak mereka, sangat mengkhawatirkan," tambahnya.

Amnesty Internasional (AI), organisasi non-pemerintah yang berfokus pada HAM, menyambut baik keputusan tersebut. Amnesty mengatakan mekanisme investigasi internasional yang independen dengan kemampuan mencatat dan mengumpulkan bukti sangat penting untuk menjamin keadilan.

Bulan lalu, 50 organisasi mendesak negara anggota PBB untuk membentuk misi pencari fakta atau mekanisme investigasi independen serupa untuk Afghanistan.