Varian Delta Mengganas, Selandia Baru Tinggalkan Strategi Nol Corona

Mutia Safira - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 17:07 WIB
PM Selandia Baru Jacinda Ardern (AFP Photo)
PM Selandia Baru Jacinda Ardern (AFP Photo)
Wellington -

Selandia Baru menjadi negara terkini yang meninggalkan strategi nol virus Corona (COVID-19) di tengah semakin mengganasnya varian Delta yang sangat mudah menular. Varian Delta yang tergolong sulit dihentikan penyebarannya semakin dominan di negara tersebut.

Seperti dilansir CNBC, Selasa (5/10/2021), otoritas Selandia Baru mengumumkan pada Senin (4/10) waktu setempat bahwa negaranya tidak lagi menerapkan pendekatan nol Corona, yang merupakan salah satu pendekatan paling ketat di dunia dalam mengendalikan penyebaran Corona.

Pendekatan ini berarti mengeliminasi semua kasus Corona di negara tersebut. Strategi nol Corona, yang juga diterapkan di China dan Taiwan, mencakup penerapan lockdown ketat -- bahkan jika hanya terdeteksi satu kasus atau sedikit kasus -- dan pengujian secara ekstensif, perbatasan yang dikontrol ketat atau ditutup, serta sistem pelacakan kontak secara erat dan karantina wajib.

Langkah Selandia Baru meninggalkan strategi nol Corona diputuskan setelah lockdown di kota Auckland gagal menghentikan penyebaran Corona yang didominasi varian Delta. Varian itu diperkirakan 60 persen lebih mudah menular dibanding varian asli, Alfa, yang ditemukan akhir tahun 2020.

Selandia Baru sebelumnya dikenal sebagai salah satu negara yang sangat ketat dalam menangani COVID. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menempatkan negaranya di bawah lockdown pada Agustus lalu setelah satu kasus Corona varian Delta terdeteksi di Auckland.

Namun pada Senin (4/10) waktu setempat, Ardern menjelaskan bahwa lockdown akan dilonggarkan secara bertahap dan strategi Selandia Baru dalam menghadapi Corona akan berubah.

"Untuk wabah ini, jelas bahwa pembatasan ketat untuk periode lama tidak membawa kita pada nol kasus," ucap Ardern dalam konferensi pers terbaru. "Tapi tidak apa-apa. Eliminasi itu penting karena kita tidak punya vaksin. Sekarang kita memilikinya, jadi kita bisa mulai mengubah cara kita melakukan sesuatu," imbuhnya.

Simak juga 'New Zealand Laporkan Kematian Pertama Berkaitan dengan Pfizer':

[Gambas:Video 20detik]