Mengejutkan! Duterte Batal Jadi Cawapres, Akan Mundur dari Politik

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 16:14 WIB
In this photo provided by the Malacanang Presidential Photographers Division, Philippine President Rodrigo Duterte wears a protective mask as he meets members of the Inter-Agency Task Force on the Emerging Infectious Diseases in Davao province, southern Philippines on Monday Sept. 21, 2020. Duterte says he has extended a state of calamity in the entire Philippines by a year to allow the government to draw emergency funds faster to fight the COVID-19 pandemic and harness the police and military to maintain law and order. (Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (Foto: Albert Alcain/Malacanang Presidential Photographers Division via AP)
Jakarta -

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyampaikan pengumuman mengejutkan. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada pemilihan umum tahun 2022 dan akan pensiun dari politik.

Hal ini berpotensi membuka jalan bagi putrinya untuk memperebutkan jabatan tertinggi di negara itu.

"Sentimen yang luar biasa dari orang-orang Filipina adalah bahwa saya tidak memenuhi syarat dan merupakan pelanggaran konstitusi untuk menghindari hukum, semangat konstitusi jika mencalonkan diri sebagai wakil presiden," kata Duterte seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (2/10/2021).

"Hari ini saya mengumumkan pengunduran diri saya dari politik," imbuhnya.

Duterte membuat pengumuman mengejutkan tersebut pada Sabtu (2/10) di tempat di mana dia diharapkan untuk mendaftarkan pencalonannya sebagai wapres. Namun, Duterte tidak menyebutkan secara detail kapan dia akan meninggalkan dunia politik.

Duterte, yang menurut jajak pendapat tetap sepopuler ketika dia meraih kemenangan pada 2016 dengan janji untuk membersihkan negara dari narkoba, secara konstitusional dilarang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

Sebelumnya pada Agustus lalu, Duterte mengatakan bahwa dia akan bertarung sebagai wakil presiden dalam pemilihan umum tahun 2022 mendatang. Ini merupakan langkah yang menurut para kritikus dimotivasi oleh ketakutan akan menghadapi tuntutan pidana setelah meninggalkan jabatannya.