Geger Mayat Penculik Digantung, Tanda Taliban Kembali ke Era Lampau?

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 06:57 WIB

Hukuman Ngeri oleh Taliban

Seperti diketahui, Mullah Nooruddin Turabi, yang merupakan salah satu pendiri Taliban dan pernah menjabat kepala penegakan hukum Islam saat Taliban berkuasa di Afghanistan dua dekade lalu, menyampaikan soal kebijakan hukuman potong tangan. Turabi mengungkapkan alasan penerapan kembali hukuman berat sesuai interpretasi Taliban terhadap hukum Islam itu.

"Memotong tangan sangat diperlukan untuk keamanan," cetus Turabi.

Turabi menegaskan bahwa para hakim, termasuk hakim wanita, akan mengadili kasus-kasusnya. Pondasi hukum Afghanistan, sebut Turabi, tetap Quran. Dia menegaskan hukuman yang sama akan diterapkan kembali.

Kendati demikian, Turabi menyatakan bahwa kabinet pemerintahan Taliban masih mempelajari apakah hukuman semacam itu akan dilakukan di depan umum seperti di masa lalu. Turabi juga menyatakan pemerintahan Taliban akan 'mengembangkan sebuah kebijakan' terkait itu.

Dalam beberapa waktu terakhir di Kabul, pria-pria yang diklaim mencuri dinaikkan ke pikap, tangan mereka diikat, dan diarak keliling kota untuk mempermalukan mereka.

Pada kasus lain, wajah mereka dicoreng-moreng untuk mengidentifikasi bahwa mereka pencuri. Roti busuk digantungkan di leher atau disumpalkan ke mulut mereka.

"Bukan hal yang baik untuk melihat orang-orang dipermalukan di depan umum, tapi itu menghentikan para penjahat karena ketika orang-orang melihatnya, mereka berpikir 'Saya tidak ingin itu menjadi saya'," ucap Amaan yang merupakan pemilik toko di pusat Kabul.

Hukuman untuk penculik anak juga dilakukan di kota Herat, Afghanistan. Saat itu Taliban berhasil menyelamatkan seorang anak laki-laki.

Terbaru, pada Sabtu (25/9) hukuman serupa juga kembali menggegerkan warga kota Herat. Empat mayat pria pelaku penculikan digantung.

Kemudian mayat para pria itu dipamerkan di berbagai tempat umum pada hari yang sama dengan pembunuhan untuk memberi "pelajaran" bahwa penculikan tidak akan ditoleransi.


(aik/imk)