Geger Mayat Penculik Digantung, Tanda Taliban Kembali ke Era Lampau?

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 06:57 WIB
Jakarta -

Taliban menegaskan akan tetap memberlakukan hukuman berat seperti potong tangan hingga mayat penculik digantung di area publik Afghanistan. Apakah Taliban akan membuat Afganistan kembali ke masa lalu dengan hukuman keras?

Guru besar Hubungan Internasional dari Universitas Indnesia (UI) Hikmahanto Juwana menyebut, masa depan hukuman potong tangan seperti masa lalu masih belum bisa diprediksi. Menurutnya, beberapa kejadian, seperti menggantung mayat di Kota Herat, tidak bisa ditarik secara umum.

"Intinya, apa yang terjadi sekarang, belum bisa simpulkan bahwa ini Taliban akan kembali ke masa lalu. Karena yang terjadi ini masih di titik-titik tertentu. Dan masih belum sporadis," kata Hikmahanto, saat dihubungi, Minggu (26/9/2021).

Menurut Hikmahanto, masyarakat internasional sedang memberi perhatian kepada Taliban. Masyarakat internasional, menurut Hikmahanto, pasti menilai soal hukuman keras Taliban tersebut.

"Tapi, ini yang jadi catatan masyarakat internasional terkait pemerintahan Taliban sekarang. Pemerintahan Taliban, harus bisa mengendalikan ini," katanya.

Memang, Taliban telah mengumumkan untuk memberlakukan hukuman potong tangan dan kaki kepada pelaku kejahatan. Namun, kebijakan tersebut belumlah keputusan akhir.

"Kan masih dikaji, mungkin berbagai pertimbangan perlu diperhatikan, termasuk negara yang mau berhubungan dengan mereka. Mungkin memeri syarat, boleh berhubungan, boleh kasih pinjaman, asal memperhatikan hal-hal yang tidak melanggar HAM," katanya.

Bagi Hikmahanto, masalah Taliban adalah bagaimana mereka mengendalikan dan menyatukan faksi-faksi yang ada. Sehingga, tidak ada kelompok yang bertentangan dengan kebijakan yang akan diambil.

"Pemerintahan Taliban masih baru, artinya, belum punya kendali penuh terhadap Taliban (yang lain), kan banyak faksi. Apakah yang di daerah itu bisa dikaitkan dengan di pusat," katanya.