Partai Putin Unggul Pemilu, Oposisi Rusia Tuduh Kecurangan Massal

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 17:52 WIB
Rakyat Rusia menyalurkan hak pilihnya dalam pemilu legislatif di Rusia, (17/9). Pemilu di negara tersebut digelar 3 hari untuk memilih anggota majelis rendah.
Proses pemungutan suara dalam pemilu parlemen Rusia (dok. AP/Sergei Rusanov)

Sekutu-sekutu pengkritik Kremlin dan tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny, menyebut hasil pemilu itu aneh. Navalny diketahui kini mendekam di penjara karena melanggar ketentuan pembebasan bersyarat.

"Itu benar-benar sulit dipercaya. Saya ingat perasaan tahun 2011, ketika mereka mencuri pemilu. Hal yang sama terjadi saat ini," sebut juru bicara Navalny, Kira Yarmysh, dalam pernyataannya.

Tuduhan kecurangan pemilu yang luas tahun 2011 lalu memicu unjuk rasa besar-besaran yang dipimpin Navalny.

Sekutu-sekutu Navalny menuduh pemungutan suara diwarnai pemalsuan dalam skala besar, secara khusus merujuk pada penundaan berulang kali dalam merilis hasil pemilu untuk pemungutan suara elektronik di ibu kota Moskow yang didominasi oposisi pemerintah.

Menurut data komisi pemilu Rusia pada Minggu (19/9) waktu setempat, jumlah pemilih dalam pemilu parlemen tahun ini mencapai 45 persen.

Para pengkritik berargumen bahwa pemungutan suara online yang membatasi pemantau pemilu dan proses pemungutan suara yang disebar selama tiga hari -- langkah yang diklaim untuk mengurangi risiko penularan virus Corona -- justru memberikan peluang untuk kecurangan.

Pada Minggu (19/9) malam waktu setempat, pemantau pemilu independen, Golos -- yang dijuluki 'agen asing' oleh pemerintah Rusia -- mencatat lebih dari 4.900 laporan pelanggaran pemilu.


(nvc/ita)