Round-Up

Terlunta-lunta Nasib Siswi Sekolah Menengah Setelah Taliban Buka Sekolah

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 20:02 WIB
Perempuan Afghanistan Kembali Sekolah di Tengah Kekuasaan Taliban
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Paula Bronstein)
Kabul -

Nasib para siswi sekolah menengah di Afghanistan masih terlunta-lunta pasca Taliban melakukan pembukaan sekolah. Dalam pengumuman yang disampaikan Kementerian Pendidikan baru Taliban, siswi perempuan tidak disertakan dalam pembukaan sekolah menengah. Hanya laki-laki yang disebut.

"Seluruh guru pria dan murid-murid laki-laki harus kembali ke sekolah menengah," demikian isi pengumuman yang disampaikan oleh Kementerian Pendidikan baru Taliban terkait pembukaan sekolah Sabtu (18/9), seperti dilansir BBC, Minggu (19/9/2021).

Sekolah tingkat menengah di Afghanistan biasanya didominasi murid-murid usia 13 hingga 18 tahun. Kebanyakan sekolah tersebut menerapkan sistem segregasi.

Mengutip kantor berita Bakhtar Afghanistan, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menjelaskan soal pembukaan sekolah menengah bagi siswi perempuan di negara tersebut. Ia berjanji akan segera membukanya, meski tak merinci kapan.

Mujahid menyebut saat ini para pejabat sedang membahas 'prosedur' terkait dan akan segera merinci pembagian guru. Kepada BBC, Mujahid juga menjelaskan bahwa pihaknya juga sedang membahas terkait transportasi bagi siswa perempuan.

Merespon sikap Taliban, para siswi perempuan dan orang tua mereka tidak menaruh terlalu banyak harapan. Menurut mereka janji Taliban hanya berpeluang sangat kecil bagi masa depan pendidikan kaum perempuan.

"Saya sangat khawatir dengan masa depan saya" kata seorang siswi perempuan di Afghanistan, yang berharap menjadi pengacara.

"Semuanya terlihat sangat gelap. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?" imbuhnya.

Sang ayah pun turut mengeluhkan kondisi tersebut sembari berkata, "Ibuku dulu buta huruf, dan ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya idiot. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku."

Pihak sekolah menengah juga menyebutkan kondisi para siswi. Mereka masih menanti kabar baik bagi pendidikan perempuan di Afghanistan.

"Semangat mereka turun dan mereka menunggu pengumuman pemerintah agar mereka bisa melanjutkan sekolah," kata Hadis Rezaei, yang mengajar murid perempuan tingkat menengah.

"Pendidikan anak perempuan adalah memperbaiki generasi. Pendidikan anak laki-laki dapat mempengaruhi keluarga. Tapi pendidikan anak perempuan mempengaruhi masyarakat. Kami sangat ketat mengikuti masalah ini sehingga anak perempuan dapat melanjutkan pendidikan mereka dan menyelesaikan studi mereka." imbuhnya