Sekolah di Afghanistan Kembali Dibuka, Nasib Murid Perempuan Bagaimana?

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 09:58 WIB
Taliban izinkan perempuan di Afghanistan bersekolah. Namun ada sejumlah persyaratan yang diberikan, salah satunya ruang kelas akan dipisahkan berdasarkan gender
Sekolah di Afghanistan Kembali Dibuka, Nasib Murid Perempuan Bagaimana? -- ilustrasi (Foto: AP Photo/Felipe Dana)

Melihat sikap Taliban, para murid perempuan dan orang tua mereka tidak berharap banyak pada janji Taliban soal masa depan mereka. Menurut mereka janji itu berpeluang sangat kecil.

"Saya sangat khawatir dengan masa depan saya" kata seorang murid perempuan di Afghanistan, yang berharap menjadi pengacara.

"Semuanya terlihat sangat gelap. Setiap hari saya bangun dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya hidup? Haruskah saya tinggal di rumah dan menunggu seseorang mengetuk pintu dan meminta saya untuk menikah dengannya? Apakah ini tujuan menjadi seorang wanita?" imbuhnya.

Sang ayah pun turut mengeluhkan kondisi tersebut sembari berkata, "Ibuku dulu buta huruf, dan ayahku terus-menerus menggertaknya dan menyebutnya idiot. Aku tidak ingin putriku menjadi seperti ibuku."

Awal pekan ini, Taliban mengumumkan bahwa perempuan akan diizinkan untuk belajar di universitas, tetapi dengan syarat harus terpisah dengan laki-laki dan harus mengikuti aturan berpakaian baru. Terkait pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin, beberapa pihak menyarankan aturan tersebut dicabut. Hal ini lantaran universitas-universitas tidak memiliki sumber daya untuk menyediakan kelas terpisah.

Sejak Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun 2001, kemajuan besar telah dibuat dalam meningkatkan pendidikan dan tingkat melek huruf di Afghanistan - terutama untuk anak perempuan. Jumlah anak perempuan di sekolah dasar meningkat dari hampir nol menjadi 2,5 juta, sementara tingkat melek huruf perempuan hampir dua kali lipat dalam satu dekade menjadi 30%.

"Ini adalah kemunduran dalam pendidikan untuk perempuan dan anak perempuan Afghanistan," kata Nororya Nizhat, mantan juru bicara Kementerian Pendidikan.

"Ini mengingatkan semua orang tentang apa yang dilakukan Taliban di tahun 90-an. Kami berakhir dengan generasi perempuan yang buta huruf dan tidak berpendidikan." imbuhnya.


(izt/knv)