Pengadilan Jepang Panggil Kim Jong-Un Atas Tuduhan Pelanggaran HAM

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 08:28 WIB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, kini menjadi sorotan. Bukan karena kebijakannya, melainkan karena penampilannya yang dinilai lebih kurus.
Kim Jong-Un (Foto: AP)
Tokyo -

Pengadilan Jepang memanggil pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un. Kim Jong-Un dipanggil untuk menghadapi tuntutan kompensasi atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Dilansir dari The Guardian, Kamis (9/9/2021), tuduhan itu dilayangkan warga etnis Korea di Jepang yang mengaku menderita pelanggaran HAM di Korea Utara setelah bergabung dengan program pemukiman yang menggambarkan negara itu sebagai 'surga di Bumi'.

Kim Jong-Un diperkirakan tidak akan hadir dalam pengadilan yang akan digelar pada 14 Oktober 2021 mendatang. Namun, keputusan hakim untuk memanggil Kim Jong-Un disebut merupakan contoh langka bahwa kepala pemerintahan negara lain tidak diberikan kekebalan kedaulatan.

Pengacara korban, Kenji Fukuda, mengatakan kelima kliennya menuntut masing-masing 100 juta yen sebagai kompensasi dari Korea Utara atas pelanggaran HAM yang mereka katakan mereka derita di bawah program pemukiman kembali.

Sebagai informasi, sekitar 93.000 etnis Korea di Jepang dan anggota keluarga mereka pergi ke Korea Utara beberapa dekade lalu karena janji akan kehidupan yang lebih baik. Keputusan itu diambil lantaran banyak yang menghadapi diskriminasi di Jepang sebagai etnis Korea.

Setelah tiga tahun melakukan diskusi praperadilan, pengadilan akhirnya setuju untuk memanggil Kim Jong-un ke sidang pertama pada 14 Oktober 2021.

Fukuda mengatakan dia tidak mengharapkan Kim Jong-Un untuk muncul, atau memberikan kompensasi jika diperintahkan oleh pengadilan. Namun, dia berharap kasus itu dapat menjadi preseden untuk negosiasi masa depan antara Jepang dan Korea Utara dalam mencari tanggung jawab dan normalisasi hubungan diplomatik.

Eiko Kawasaki (79), seorang etnis Korea yang lahir dan besar di Jepang, berusia 17 tahun ketika dia meninggalkan Jepang pada tahun 1960, setahun setelah Korea Utara memulai program repatriasi besar-besaran untuk menebus para pekerja yang tewas dalam perang Korea dan membawa pulang orang Korea dari luar negeri.

Program ini terus mencari rekrutan hingga tahun 1984. Banyak dari mereka berasal dari Korea Selatan.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'Kim Jong-un Tolak Vaksin Covid-19, Tangani dengan Cara Sendiri':

[Gambas:Video 20detik]