PBB: 380 Ribu Orang Terdampak Banjir Besar di Sudan Selatan

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 01 Sep 2021 03:22 WIB
People walk on sandbags to reach their homes in the town of Shaqilab, about 15 miles (25 km) southwest of the capital, Khartoum, Sudan, Monday, Aug. 31, 2020. (AP Photo/Marwan Ali)
Banjir di Sudan (Foto: AP/Marwan Ali)
Jakarta -

Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) melaporkan sekitar 380.000 orang terdampak banjir besar di Sudan Selatan. Selain itu rumah-rumah warga yang tenggelam akibat banjir juga memaksa warga untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

Dilansir AFP, Selasa (31/8/2021), OCHA mengatakan hampir tiga perempat dari mereka yang terkena dampak berada di dua negara bagian Unity dan Jonglei. Badan itu juga memperingatkan "hujan lebat dan banjir diperkirakan akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang," katanya.

OCHA mengungkap kendala dalam evakuasi. Salah satunya akses ke daerah yang terdampak banjir besar itu.

"Akses adalah tantangan besar, dengan mayoritas daerah yang terkena banjir tidak dapat diakses melalui jalan darat," kata badan tersebut, sambil menambahkan bahwa pekerja bantuan berjuang untuk mengirimkan pasokan ke populasi pengungsi.

Salah seorang warga, Michael Wai, yang mengungsi bersama keluarganya ke ibu kota Jonglei, Bor, mengatakan banyak orang tidak dapat pindah ke daerah yang lebih aman. Dia menyebut banjir datang dari berbagai arah.

"Banjir datang dari segala arah -- timur selatan, utara dan barat," katanya kepada AFP.

"Banyak orang telah meninggalkan beberapa daerah banjir tetapi ada beberapa orang yang tertinggal karena kerentanan, mereka tidak dapat keluar dari tempat itu," katanya, seraya menambahkan bahwa penduduk lanjut usia berada dalam kondisi yang sangat genting.

Air sungai naik yang dipicu oleh hujan musiman telah membanjiri lahan pertanian. Banjir itu juga membunuh ternak dan menghancurkan gubuk jerami tipis. Pada tahun sebelumnya rekor banjir melanda sekitar 700.000 orang di Sudan.

OCHA mengatakan sekitar 100.000 dari mereka yang terlantar dalam bencana tahun lalu masih belum kembali ke rumah. Sementara curah hujan yang tak henti-hentinya telah membuat beberapa lahan pertanian terendam selama lebih dari setahun.

Selain itu, Sudan juga masih berjuang untuk mengatasi dampak perang saudara selama lima tahun yang menewaskan hampir 400.000 orang.

Sebanyak empat dari lima orang dari 11 juta penduduk Sudan Selatan hidup dalam "kemiskinan ekstrem", hal itu berdasarkan data Bank Dunia pada 2018. Sementara lebih dari 60 persen penduduknya menderita kelaparan parah akibat gabungan efek konflik, kekeringan, dan banjir.

Simak juga 'Ngerinya Banjir Bandang di Venezuela, 20 orang Tewas':

[Gambas:Video 20detik]



(lir/lir)