Ratusan Orang Tertinggal di Afghanistan, Pemerintah Inggris Dihujat

ADVERTISEMENT

Ratusan Orang Tertinggal di Afghanistan, Pemerintah Inggris Dihujat

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 30 Agu 2021 16:23 WIB

The Observer menyebut pihaknya melihat sebuah akun email yang dibuat Kementerian Luar Negeri Inggris untuk menerima permohonan semacam itu, memiliki 5.000 email yang belum dibuka pekan lalu. Email-email itu mencakup pesan dari kantor-kantor kementerian dan pemimpin oposisi Partai Buruh, Keir Starmer.

"Mereka tidak mungkin tahu (berapa banyak orang yang tertinggal) karena mereka bahkan tidak membaca email-emailnya," sebut sang whistleblower tersebut.

Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris merespons dengan mengatakan bahwa tim krisis telah bekerja 24 jam setiap harinya 'untuk memilah-milah email dan panggilan masuk'.

Para pejabat Inggris memberikan perkiraan bervariasi soal berapa banyak warga Afghanistan yang memenuhi syarat relokasi namun tidak diterbangkan dalam penerbangan evakuasi yang berakhir pada Sabtu (28/8) lalu.

Kepala Angkatan Bersenjata Inggris, Jenderal Sir Nick Carter, menyebut jumlahnya mencapai 'ratusan orang'. Sedangkan seorang Menteri Inggris yang tidak disebut namanya dan dikutip The Sunday Times menyatakan: "Saya menduga kita bisa membawa keluar 800 hingga 1.000 orang lagi."

Menteri yang sama mengecam Menlu Raab yang disebutnya 'tidak melakukan apa-apa' untuk menjalin hubungan dengan negara-negara ketiga yang menjadi jalur masuk warga Afghanistan yang bisa direlokasi ke Inggris.

Laporan ini muncul setelah media Inggris, The Times, pekan lalu melaporkan temuan informasi detail para staf dan pelamar kerja pada Kedutaan Besar Inggris di Kabul ditinggalkan begitu saja tanpa dihancurkan di gedung kedutaan yang kini dijaga Taliban. Hal semacam ini memicu bahaya bagi mereka.


(nvc/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT