Presiden Iran Akui Pemerintah Tak Selalu Jujur kepada Rakyat

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 18:36 WIB
FILE - In this Dec. 20, 2019, file photo, Iranian President Hassan Rouhani attends a meeting with Japanese Prime Minister Shinzo Abe during a meeting at the prime ministers office in Tokyo.  Iran on Saturday, Jan. 11, 2020, acknowledged that its armed forces “unintentionally” shot down the Ukrainian jetliner that crashed earlier this week, killing all 176 aboard, after the government had repeatedly denied Western accusations that it was responsible. (Charly Triballeau/Pool Photo via AP, File)
Hassan Rouhani (Charly Triballeau/Pool Photo via AP, File)
Teheran -

Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang akan segera mengakhiri masa jabatannya menyampaikan pengakuan bahwa pemerintah terkadang 'tidak menyampaikan sebagian kebenaran' kepada rakyat selama delapan tahun dia memimpin negara tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (2/8/2021), pengakuan itu disampaikan Rouhani saat berbicara dalam rapat kabinet terakhirnya yang disiarkan televisi nasional Iran pada Minggu (1/8) waktu setempat.

Pengakuan Rouhani disampaikan saat para pejabat pemerintahan Iran tampak tidak berdaya dalam beberapa bulan terakhir di tengah serentetan krisis mulai dari pandemi virus Corona (COVID-19) hingga kekeringan parah yang memicu aksi protes publik.

Setelah muncul beberapa hari sebelumnya ketika diceramahi oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, soal kegagalan dalam perundingan nuklir, pernyataan terbaru Rouhani ini tampaknya dimaksudkan untuk mengakui persoalan yang dihadapi pemerintahannya selama masa-masa sulit.

Presiden terpilih, Ebrahim Raisi, yang merupakan anak didik Khamenei dijadwalkan akan dilantik pada Kamis (5/8) mendatang.

"Apa yang kami katakan kepada rakyat tidak bertentangan dengan kenyataan, tapi kami tidak memberitahukan sebagian kebenaran kepada rakyat," ungkap Rouhani dalam rapat kabinet terakhirnya.

"Karena saya tidak menganggapnya berguna dan saya takut itu akan merusak persatuan nasional," imbuhnya memberi alasan.

Rouhani tidak menjelaskan lebih lanjut maksud pernyataannya. Namun diketahui di bawah kepemimpinannya, Garda Revolusi Iran secara tidak sengaja menembak jatuh sebuah pesawat komersial dan menewaskan 176 orang di dalamnya pada Januari 2020. Saat itu, pemerintah Iran selama berhari-hari menolak mengakui keterlibatan sebelum negara-negara Barat secara terang-terangan melontarkan kecurigaan mereka.