COVID Thailand: Kasus Melonjak-Gudang Kargo Disulap Jadi RS

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 30 Jul 2021 14:57 WIB
BANGKOK, THAILAND - APRIL 10: Healthcare workers prepare beds at an isolation unit at the Ratchapiphat Hospitals newly constructed isolation unit for COVID-19 patients on April 10, 2021 in Bangkok, Thailand. Due to an outbreak linked to nightclubs in Bangkoks Thonglor district, Thailand prepares multiple field hospitals throughout the country as COVID-19 cases rise. (Photo by Lauren DeCicca/Getty Images)
COVID Thailand: Kasus Melonjak-Gudang Kargo Disulap Jadi RS (Foto: Getty Images/Lauren DeCicca)
Bangkok -

Kasus COVID di Thailand terus mengalami lonjakan imbas varian baru Delta. Angka infeksi dan kematian melonjak hingga memicu sistem perawatan kesehatan meregang.

Thailand menambah daftar negara-negara di Asia Tenggara yang kini terpukul dengan melonjaknya kasus corona. Selama 2 minggu berturut-turut, kasus COVID-19 di negeri gajah putih rata-rata di atas 10.000 kasus.

Pemerintah pun memberlakukan pembatasan di sejumlah provinsi yang terkena dampak paling parah. Aturan tersebut antara lain seperti pembatasan ketat hingga jam malam diberlakukan.

Lonjakan Kasus COVID di Thailand

Seperti dilansir dari Channel News Asia, Jumat (30.7/2021) Thailand melaporkan 17.345 kasus COVID-19 baru dan 117 kematian pada hari ini. Angka ini menurun sedikit dari data sehari sebelumnya (29/7) dengan 17.669 kasus baru dan 165 kematian.

Dengan penambahan itu, Thailand mencatat 578.375 infeksi dan 4.679 kematian. Sementara itu, menurut data Kementerian Kesehatan, kini ada 192.526 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Sekitar 1.012 di antaranya menggunakan ventilator.

RS Kekurangan Bed Akibat Lonjakan COVID Thailand

Seperti dilansir AFP, Kementerian Kesehatan mengeluarkan peringatan baru pada Kamis (29/7) lalu. Peringatan tersebut terkait kurangnya tempat tidur rumah sakit dan fasilitas isolasi di Bangkok.

"Saya berbicara terus terang. Kami tidak memiliki cukup tempat tidur di rumah sakit," kata Somsak Akkasilp, Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Medis Kementerian Kesehatan, dalam konferensi pers.

"Di rumah sakit besar, semua (unit perawatan intensif) terlalu sibuk. Mereka memiliki 10 tempat tidur untuk ICU tetapi mereka harus menangani 12 kasus ICU," ungkapnya, seraya dengan menambahkan bahwa petugas medis memindahkan pasien kritis dari ruang gawat darurat begitu tempat tidurnya dikosongkan.

Rumah sakit di Ibu kota pada umumnya memiliki 1.000 kapasitas untuk pasien baru. Namun menurut Somsak, angka tersebut kini tak cukup lantaran pada Kamis lalu, di Bangkok saja memiliki penambahan 4.000 kasus baru.

Somsak menambahkan, pihak berwenang mulai merekomendasikan para pasien COVID untuk melakukan isolasi di rumah bagi mereka yang memiliki gejala ringan.

Gudang Kargo Disulap Jadi RS untuk Pasien COVID Thailand

Lonjakan kasus COVID di Thailand menyebabkan para relawan ambil tindakan. Mereka mengubah sebuah gudang kargo di Bandara Don Mueang, Bangkok, menjadi sebuah rumah sakit (RS) darurat berisi 1.800 tempat tidur untuk para pasien virus Corona (COVID-19) dengan gejala tidak terlalu parah.

Para pekerja tampak mengebor dinding untuk instalasi toilet dan menyiapkan tempat tidur beserta selimutnya.

"Ini merupakan rumah sakit lapangan 1+ yang bisa menerima sejumlah besar pasien, yang memiliki gejala-gejala tidak terlalu parah," ucap Direktur Rumah Sakit Mongkutwattana, Rienthong Nanna, kepada Reuters.

"Tapi jika kondisi pasien memburuk, mereka akan dipindahkan ke rumah sakit lapangan lainnya bernama Rumah Sakit Lapangan Pitak Rachan," imbuhnya.

Rienthong, seorang pensiunan mayor jenderal dan pemimpin ultra-royalist, menyatakan rumah sakit lapangan itu belum beroperasi penuh karena perlu lebih banyak persiapan.

Dia menyebut bahwa jumlah kasus Corona di Thailand akan terus naik dan lebih banyak rumah sakit lapangan yang dibutuhkan.

Kata PM Soal COVID Thailand

Perdana Menteri (PM) Thailand, Prayuth Chan-o-cha, angkat suara soal COVID di negaranya. Menurutnya, negara-negara lain menghadapi beban kasus Corona yang lebih tinggi dari Thailand.

"Jika kita merenungkan penularan di negara kita, mungkin tampak mengejutkan, melihat pada kematian harian. Saya ingin Anda memperhatikan angka-angka ini di negara-negara tetangga kita dan negara lainnya untuk sebuah perubahan," ucap Prayuth dalam wawancara khusus di Government House pekan ini, seperti dilansir Channel News Asia, Jumat (30/7/2021).

"Saat ini, setiap negara di dunia sedikit banyak telah merasakan dampaknya. Ada banyak negara di peringkat atas, seperti Anda bisa lihat, yang angkanya berkali-kali lipat lebih tinggi dari kita," imbuhnya, tanpa menyebut negara yang dimaksudnya.

Prayuth juga mengatakan penanganan pandemi oleh pemerintahannya tidak bermasalah. Dia membandingkan negara-negara lainnya yang dianggap belum mampu mengendalikan pandemi.

Mulai hari ini (30/7/2021) Royal Gazette menerbitkan perintah Prayuth yang melarang pelaporan berita atau penyebaran informasi yang bisa menebar ketakutan publik. Larangan diberlakukan untuk segala konten yang memutarbalikkan informasi, memicu kesalahpahaman selama masa darurat Corona dan mempengaruhi keamanan nasional, perdamaian serta ketertiban umum.

Prayuth memberikan wewenang kepada Kantor Komisi Penyiaran dan Telekomunikasi Nasional (NTBC) untuk memblokir konten yang dimaksud. NTBC juga wajib melaporkannya ke polisi untuk diproses secara hukum.

Tonton video 'Corona di Thailand Menggila, Seribu Biksu Mulai Divaksinasi':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)