India Bantah Studi AS Soal Jutaan Warganya Meninggal karena Corona

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 10:49 WIB
NEW DELHI, INDIA - APRIL 20: Children of migrant labourers working in Delhi look out the window of a bus as they head to their native villages after the Delhi government imposed a week long lockdown to battle the deadlier second wave of the Covid-19 coronavirus infections on on April 20, 2021 in New Delhi, India. Covid-19 cases are spiralling out of control in India, with daily infections approaching 300,000, according to health ministry data, bringing the nationwide tally of infections to almost 14 million. The latest wave has already overwhelmed hospitals and crematoriums. (Photo by Anindito Mukherjee/Getty Images)
ilustrasi (Foto: Getty Images/Anindito Mukherjee)
Jakarta -

Pemerintah India membantah studi terbaru yang menyebut jutaan orang telah meninggal di negara itu akibat COVID-19, beberapa kali lipat dari jumlah resmi hampir 420.000 kematian.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (23/7/2021), pada hari Selasa (20/7) waktu setempat, sebuah studi oleh kelompok riset Amerika Serikat, Center for Global Development, menyebut antara 3,4 juta hingga 4,7 juta orang telah meninggal di India karena infeksi virus Corona, antara delapan dan 11 kali lipat dari jumlah resmi.

Angka tersebut menjadikan India sebagai negara dengan jumlah kematian tertinggi di dunia. Saat ini jumlah korban resmi kematian karena Corona di India sebanyak 419.000 kematian. India berada di tempat ketiga tertinggi di dunia setelah Brasil yang mencatat 545.000 kematian dan Amerika Serikat dengan 610.000 kematian.

Studi AS tersebut adalah yang terbaru yang meragukan angka resmi India, menunjuk pada buruknya pencatatan dan tingkat kematian per juta sekitar setengah dari rata-rata global.

Para peneliti telah melihat secara khusus pada "kelebihan kematian", jumlah kematian tambahan dibandingkan dengan waktu normal, dan pada tingkat kematian di negara lain.

Namun, pemerintah India mengatakan pada hari Kamis (22/7) waktu setempat membantah studi tersebut dan menyebutnya sebagai "asumsi yang berani bahwa kemungkinan setiap orang yang terinfeksi meninggal adalah sama di seluruh negara".

Pemerintah India menyebut studi itu mengabaikan "faktor-faktor seperti ras, etnis, konstitusi genomik suatu populasi, tingkat paparan sebelumnya terhadap penyakit lain dan kekebalan terkait yang dikembangkan pada populasi itu".