Round-Up

Mengemuka Tudingan ke PM Inggris Sebab Anggap Enteng Pandemi Corona

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Jul 2021 05:00 WIB
(FILES) In this file photo taken on July 23, 2019 new Conservative Party leader and incoming prime minister Boris Johnson arrives at the Conservative party headquarters in central London. - On July 23, 2019, party members choose Brexit figurehead Boris Johnson as their new leader. He becomes prime minister the next day. (Photo by Niklas HALLEN / AFP)
Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson (AFP/NIKLAS HALLE'N)

Cummings juga menyebut bahwa Johnson berulang kali mengecam lockdown pertama di Inggris mulai Maret 2020 sebagai 'bencana'.

Pemerintah Inggris diketahui mencabut banyak pembatasan Corona pada musim panas tahun 2020 termasuk membuka kembali toko-toko non-esensial, dan mendorong warganya untuk makan di luar demi membantu restoran-restoran setempat. Namun saat kasus Corona dan angka rawat inap melonjak saat musim panas, lockdown kedua diberlakukan mulai 31 Oktober 2020.

Cummings meringkas sikap Johnson pada saat itu sebagai: "Ini mengerikan tapi orang-orang yang sekarat pada dasarnya berusia di atas 80 tahun dan kita tidak bisa mematikan ekonomi hanya karena orang-orang di atas 80 tahun yang sekarat."

Ditambahkan Cummings bahwa dirinya sempat membahas kemungkinan melengserkan Johnson setelah kemenangan pemilu Desember 2019, karena pengaruh pasangan Johnson, Carrie, yang dinilai terlalu kuat.

"Bahkan sebelum pertengahan Januari kami menggelar rapat di Number 10 (kantor PM Inggris-red) yang menyatakan jelas bahwa Carrie ingin menyingkirkan kami semua. Pada saat itu kami sudah mengatakan bahwa pada musim panas antara kita semua pergi dari sini atau kita ada dalam proses berupaya menyingkirkannya (Johnson-red)," ucap Cummings menurut transkrip yang dirilis BBC.

Saat ditanya apakah klaim Cummings benar, juru bicara PM Inggris secara datar menjawab 'Tidak'. Dia juga bersikeras menyatakan bahwa Johnson telah 'dibimbing oleh saran ilmiah terbaik' sepanjang pandemi Corona.

Secara terpisah, Menteri Urusan Bisnis, Paul Scully, menuturkan kepada radio BBC bahwa: "Perdana Menteri memiliki beberapa keputusan yang sangat sulit untuk diambil. Kami ingin melindungi rakyat, kami ingin menjaga orang-orang tetap aman... tapi itu harus diimbangi dengan mata pencaharian rakyat."

Johnson diketahui banyak dihujani kritikan sepanjang pandemi, dengan angka kematian Corona di Inggris naik menjadi yang terburuk di kawasan Eropa. Awal pekan ini dia secara kontroversial memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran seluruh pembatasan Corona di Inggris, meskipun ada lonjakan kasus.


(jbr/rfs)