72 Orang Tewas dalam Kerusuhan Mematikan di Afrika Selatan

Arief Ikhsanudin - detikNews
Rabu, 14 Jul 2021 04:43 WIB
Jakarta -

Ada 72 orang tewas dalam kerusuhan mematikan di Afrika Selatan. Kerusuhan ini telah berlangsung selama lima hari.

"Jumlah orang yang kehilangan nyawa sejak awal protes ini, telah meningkat menjadi 72 orang," kata polisi dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP, Rabu (14/7/2021).

Polisi menyebut, sebagian besar kematian berkaitan dengan penjarahan. "Berkaitan dengan penyerbuan yang terjadi selama insiden penjarahan toko," katanya.

Sisanya, karena penembakan dan ledakan di mesin ATM otomatis.

Presiden Cyril Ramaphosa pada Senin (12/07) mengatakan bahwa kerusuhan mematikan yang melanda Afrika Selatan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia pun mengerahkan pasukan militer untuk membantu polisi menangani kekerasan dan penjarahan yang dipicu oleh pemenjaraan mantan Presiden Jacob Zuma itu.

Pasukan militer diturunkan ke jalan-jalan dari dua provinsi paling padat di Afrika Selatan, yaitu Gauteng (provinsi dari pusat ekonomi negara, Johannesburg) dan KwaZulu-Natal (provinsi kelahiran Zuma).

"Selama beberapa hari terakhir, ada tindakan kekerasan publik yang jarang terlihat dalam sejarah demokrasi kita," kata Ramaposha dalam sebuah siaran televisi seraya menambahkan bahwa ia prihatin dan sedih. Sudah dua hari berturut-turut Ramaposha menyampaikan keterangan persnya akibat kerusuhan yang terjadi.

Kasus Korupsi Mantan Presiden Zuma


Kerusuhan yang memanas di Afrika Selatan terjadi saat Pengadilan Tinggi negara pada Senin (12/07) menggelar sidang untuk mendengar permohonan pihak Zuma guna membatalkan hukuman penjara 15 bulan yang ia terima. Zuma telah mulai menjalani hukuman pada Kamis (08/07) pekan lalu.

Zuma dijatuhi hukuman karena menentang perintah pengadilan konstitusi untuk memberikan bukti atas penyelidikan korupsi tingkat tinggi yang terjadi selama sembilan tahun kepemimpinannya, tepatnya hingga 2018.

Zuma menolak bekerja sama dalam penyelidikan kasus korupsi yang menuduhnya mengizinkan tiga pengusaha kelahiran India (Atul, Ajay, dan Rajesh gupta) menjarah sumber daya negara dan mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Zuma juga menghadapi kasus korupsi yang berkaitan dengan kesepakatan senjata senilai $2 miliar (Rp28,9 triliun) pada tahun 1999 ketika ia menjabat sebagai wakil presiden.

Hukuman penjara ini menandai kejatuhan yang signifikan bagi Zuma, yang merupakan seorang aktivis anti-apartheid terkemuka dan pemimpin gerakan pembebasan yang berubah menjadi partai penguasa, Kongres Nasional Afrika (ANC).

(aik/aik)