Peringatan FDA: Vaksin Johnson & Johnson Bisa Picu Sindrom Berbahaya GBS

ADVERTISEMENT

Peringatan FDA: Vaksin Johnson & Johnson Bisa Picu Sindrom Berbahaya GBS

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 11:26 WIB
FILE - This September 2020 photo provided by Johnson & Johnson shows a single-dose COVID-19 vaccine being developed by the company. A late-stage study of Johnson & Johnson’s COVID-19 vaccine candidate has been paused while the company investigates whether a study participant’s “unexplained illness” is related to the shot, the company announced Monday, Oct. 12, 2020. (Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File)
Ilustrasi -- Vaksin Corona buatan Johnson & Johnson (Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File)
Washington DC -

Otoritas Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (AS) atau FDA memperbarui label peringatan untuk vaksin virus Corona (COVID-19) buatan Johnson & Johnson dengan menyertakan informasi soal 'peningkatan risiko' gangguan neurologis langka yang disebut Guillain-Barre Syndrome (GBS).

Seperti dilansir AFP, Selasa (13/7/2021), kabar ini menjadi pukulan lebih lanjut untuk perusahaan produsen vaksin tersebut, yang telah mendapat izin penggunaan darurat pada Februari lalu namun baru sedikit digunakan dalam program vaksinasi Corona di wilayah AS.

Disebutkan sejumlah orang yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa berdasarkan analisis sistem pemantauan keselamatan vaksin federal, para pejabat berhasil mengidentifikasi 100 laporan awal soal sindrom berbahaya GBS setelah sekitar 12,5 juta dosis disuntikkan.

Dari angka tersebut, sebanyak 95 kasus di antara merupakan kasus serius dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Satu kasus di antaranya berujung kematian.

GBS merupakan gangguan neurologis di mana sistem imunitas tubuh merusak sel-sel saraf, yang menyebabkan lemah otot atau, dalam kasus paling parah, kelumpuhan. Gangguan ini diderita oleh sekitar 3.000 hingga 6.000 orang setiap tahunnya di AS, dan sebagian besar telah sembuh.

Label peringatan baru untuk para perawat dan penerima menyebut bahwa untuk kebanyakan orang, gejala-gejala dimulai dalam waktu 42 hari sejak menerima vaksin. Namun disebutkan juga bahwa 'kemungkinan hal ini terjadi sangat rendah'.

Disebutkan juga dalam label peringatan itu bahwa orang-orang harus mencari pertolongan medis segera jika merasa lemah atau mengalami sensasi kesemutan, khususnya di bagian kaki atau lengan, yang semakin memburuk atau menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Tonton Video: Sempat Ditunda, AS Izinkan Kembali Penggunaan Vaksin J&J

[Gambas:Video 20detik]






ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT