Israel Ingin Jalin Hubungan dengan Negara-negara Muslim Asia Tenggara

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 17 Jun 2021 18:58 WIB
An Ultra-Orthodox Jewish man, wearing a surgical mask due to the COVID-19 coronavirus pandemic, walks past Israeli flags set up in front of a shop ahead of Israels independence day due later in the week, in the centre of Jerusalem, on April 23, 2020. - Israel will celebrate its 72nd Independence Day on April 28-29 under novel coronavirus regulations, with official events and public celebrations cancelled. Israelis are required to wear faces masks when venturing outside in accordance to a governmental directive in order to combat the spread of COVID-19. (Photo by Emmanuel DUNAND / AFP)
Ilustrasi (dok. AFP/EMMANUEL DUNAND)
Singapura -

Israel menyatakan bersedia bekerja sama untuk menjalin hubungan dengan negara-negara mayoritas Muslim di kawasan Asia Tenggara, meskipun negara-negara itu mengecam keras serangan udara Israel terhadap Gaza pada Mei lalu.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (17/6/2021), hal tersebut diungkapkan oleh Duta Besar Israel untuk Singapura, Sagi Karni, dalam pernyataan terbarunya pekan ini.

Tiga negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam, diketahui mengecam keras gempuran Israel ke Gaza selama 11 hari, yang menurut paramedis, telah menewaskan lebih dari 250 warga Palestina.

Dari kubu Israel, sedikitnya 13 warga dilaporkan tewas akibat serangan roket dari Hamas dan militan lainnya di Gaza.

Baik Indonesia, Malaysia dan Brunei mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk turun tangan dan menghentikan 'kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina'.

Ketiga negara itu tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel, dan telah berulang kali menyerukan diakhirinya pendudukan Israel atas wilayah Palestina serta menyerukan solusi dua negara yang didasarkan pada perbatasan sebelum Perang Timur Tengah tahun 1967.

Dalam wawancara via video kepada Reuters, Karni selaku Dubes Israel untuk Singapura menyebut kritikan dari ketika negara itu 'tidak jujur' dan mengabaikan 'sifat sebenarnya dari konflik', yang disebutnya ada di antara Israel dan Hamas, dan bukan rakyat Palestina.

"Hamas merupakan organisasi anti-Semitisme ... Saya tidak yakin bahwa banyak orang yang berpartisipasi dalam debat media sosial sungguh-sungguh memahami sifat radikal dan fasis dari Hamas," sebut Karni kepada Reuters. Hamas diketahui menolak tuduhan anti-Semitisme.

Tonton Video: Israel Gempur Lagi Gaza, Balas Serangan Balon Api!

[Gambas:Video 20detik]