Naftali Bennett Jadi PM Israel, Akhiri Kebuntuan Politik 2 Tahun

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 12:40 WIB
Israels new prime minister Naftali Bennett holds a first cabinet meeting in Jerusalem Sunday, June 13, 2021. Israels parliament has voted in favor of a new coalition government, formally ending Prime Minister Benjamin Netanyahus historic 12-year rule. Naftali Bennett, a former ally of Netanyahu became the new prime minister (AP Photo/Ariel Schalit)
Naftali Bennett, PM Israel yang baru (Foto: AP/Ariel Schalit)

Netanyahu mengusulkan pemerintah persatuan, tetapi Gantz menolak untuk bergabung, menyebut dakwaan potensial Netanyahu atas tuduhan korupsi.

Pada bulan Oktober, Netanyahu mengumumkan bahwa dia gagal mendapatkan kursi yang cukup. Gantz juga menyerah sebulan kemudian.

Pada 21 November, jaksa agung mendakwa Netanyahu dengan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Ini adalah pertama kalinya seorang perdana menteri yang sedang menjabat menghadapi persidangan di Israel.

Netanyahu menyangkal semua tuduhan, dengan mengatakan itu adalah upaya untuk menyingkirkannya dari kekuasaan.

Pada 11 Desember, ketika tenggat waktu berlalu bagi parlemen untuk menemukan pemerintahan baru, anggota parlemen sepakat untuk mengadakan pemilihan baru pada 2 Maret 2020.

- Pemilihan ketiga dalam setahun -

Kali ini Likud memenangkan kursi terbanyak -- 36 kursi berbanding 33 kursi untuk partai Gantz.

Pada 16 Maret 2020, Gantz, dengan janji dukungan awal dari 61 anggota parlemen, dicalonkan untuk mencoba membentuk pemerintahan baru, tetapi gagal.

Pada 20 April, dengan Israel dihadapkan pada pandemi virus Corona dan krisis ekonomi, Netanyahu dan Gantz mengumumkan kesepakatan untuk membentuk pemerintah persatuan darurat.

Perjanjian tiga tahun akan memungkinkan Netanyahu untuk tetap menjabat selama 18 bulan.

Gantz kemudian akan mengambil alih sebagai perdana menteri selama 18 bulan lagi, sebelum Israel kembali ke menggelar pemungutan suara.

Pada tanggal 6 Mei lalu, Mahkamah Agung Israel menyetujui kesepakatan koalisi, dan anggota parlemen mendukung pakta tersebut pada hari berikutnya.

Tetapi setelah para anggota parlemen gagal mengadopsi anggaran, parlemen dibubarkan pada 23 Desember 2020, dan pemilihan baru diadakan pada Maret 2021.

- Misi Lapid -

Warga Israel kembali ke tempat-tempat pemungutan suara untuk mengikuti pemilihan umum keempat pada 23 Maret.

Likud berada di tempat teratas dengan meraih 30 kursi parlemen.

Di dalam blok anti-Netanyahu, partai tengah Yesh Atid, yang dipimpin oleh mantan pembawa acara televisi, Yair Lapid, memenangkan kursi terbanyak dengan 17 kursi.

Pada tanggal 6 April, Presiden Reuven Rivlin menominasikan Netanyahu untuk mencoba membentuk pemerintahan.

Tetapi setelah beberapa minggu dia gagal lagi untuk membentuk koalisi, dan Lapid pun ditugaskan untuk membentuk pemerintahan.

- Akhir era -

Garis keras nasionalis Israel, Naftali Bennett mengatakan pada 30 Mei lalu bahwa dia akan bergabung dengan koalisi potensial.

Netanyahu dengan tegas mengutuk aliansi melawannya sebagai oportunistik dan "penipuan abad ini".

Tetapi pada 2 Juni, hanya beberapa menit sebelum tenggat waktu tengah malam dan setelah berhari-hari, Lapid mengatakan kepada Presiden Israel bahwa dia telah mengumpulkan cukup banyak suara untuk membentuk pemerintahan koalisi yang akan menggulingkan Netanyahu.

Parlemen Israel menetapkan tanggal pemungutan suara pada 13 Juni. Malam sebelumnya, sekitar 2.000 warga Israel berdemonstrasi untuk merayakan kemungkinan lengsernya Netanyahu.

Aliansi delapan partai yang rapuh memenangkan pemungutan suara di Knesset.

Berdasarkan ketentuan koalisi, Bennett akan menggantikan Netanyahu selama dua tahun yang kemudian akan digantikan oleh Lapid.


(ita/ita)