Sosok Naftali Bennett, PM Baru Israel yang Tolak Kemerdekaan Palestina

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 08:36 WIB
Israels new prime minister Naftali Bennett holds a first cabinet meeting in Jerusalem Sunday, June 13, 2021. Israels parliament has voted in favor of a new coalition government, formally ending Prime Minister Benjamin Netanyahus historic 12-year rule. Naftali Bennett, a former ally of Netanyahu became the new prime minister (AP Photo/Ariel Schalit)
PM baru Israel Naftali Bennett (Foto: AP/Ariel Schalit)
Jakarta -

Naftali Bennett dilantik pada Minggu (13/6) waktu setempat sebagai Perdana Menteri (PM) baru Israel, menggantikan Benjamin Netanyahu yang telah berkuasa selama 12 tahun. Seperti apa sosok Bennett?

Seperti diberitakan Associated Press, Senin (14/6/2021), Bennet merupakan seorang Yahudi religius yang menghasilkan jutaan dolar di sektor hi-tech yang sebagian besar sekuler. Pria berumur 49 tahun itu merupakan pendukung keras gerakan permukiman Yahudi. Dia adalah mantan sekutu Netanyahu yang telah bermitra dengan partai-partai sayap kiri dan tengah untuk mengakhiri kekuasaan Netanyahu selama 12 tahun.

Partainya yang ultranasionalis, Yamina hanya memenangkan tujuh kursi di parlemen, Knesset yang beranggotakan 120 orang dalam pemilihan umum Maret lalu, pemilihan keempat dalam dua tahun. Namun, dia menolak untuk berkomitmen pada Netanyahu atau lawan-lawannya.

Bennett dikenal sebagai penentang kemerdekaan Palestina dan sangat mendukung permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem timur, yang dipandang oleh Palestina dan sebagian besar masyarakat internasional sebagai hambatan utama bagi perdamaian.

Bennett dengan keras mengkritik Netanyahu setelah dia setuju untuk memperlambat pembangunan permukiman di bawah tekanan dari mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, yang mencoba dan gagal untuk menghidupkan kembali proses perdamaian di awal masa jabatan pertamanya.

Bennett sempat menjabat sebagai kepala dewan pemukim Tepi Barat, Yesha, sebelum memasuki Knesset pada 2013. Bennett kemudian menjabat sebagai menteri kabinet urusan diaspora, pendidikan dan pertahanan di berbagai pemerintahan yang dipimpin Netanyahu.

"Dia adalah pemimpin sayap kanan, garis keras keamanan, tetapi pada saat yang sama sangat pragmatis," kata Yohanan Plesner, kepala Institut Demokrasi Israel, yang telah mengenal Bennett selama beberapa dekade dan bertugas bersamanya di militer.

Simak juga video 'Kekuasaan 12 Tahun Benjamin Netanyahu Berakhir':

[Gambas:Video 20detik]