Penampar Macron Dihukum 4 Bulan Penjara

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 11 Jun 2021 09:39 WIB
In this grab taken from video Frances President Emmanuel Macron, centre, is slapped by a man, in green T-shirt, during a visit to Tain-l’Hermitage, in France, Tuesday, June 8, 2021. Macron denounced “violence” and “stupidity” after he was slapped in the face Tuesday by a man during a visit to a small town in southeastern France. The incident prompted a wide show of support for the head of state from politicians across the ideological spectrum. A video shows a man slapping Macron in the face and the presidents bodyguards pushing the aggressor away as the head of state was quickly rushed from the scene in the town of Tain-l’Hermitage. (BFM TV via AP)
Momen saat Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ditampar seorang pria bernama Damien Tarel (BFM TV via AP)
Paris -

Pengadilan Prancis telah menjatuhkan vonis terhadap seorang pria yang menampar Presiden Emmanuel Macron di depan umum, pekan ini. Vonis dijatuhkan dalam sidang yang digelar kilat pada Kamis (10/6) waktu setempat.

Seperti dilansir AFP, Jumat (11/6/2021), Damien Tarel (28) dijatuhi hukuman 18 tahun penjara oleh pengadilan, namun 14 bulan ditetapkan sebagai hukuman percobaan sehingga Tarel hanya akan mendekam di penjara selama empat bulan.

Tarel ditahan sejak melakukan tindak penyerangan terhadap Macron pada Selasa (8/6) waktu setempat. Dalam persidangan di kota Valence, jaksa menyebut tindakan Tarel itu 'benar-benar tidak bisa diterima' dan merupakan 'tindak kekerasan yang disengaja'.

Dalam putusannya, pengadilan mengabulkan tuntutan jaksa untuk menjatuhkan vonis 18 bulan penjara. Namun hakim yang memimpin persidangan ini menyatakan Tarel hanya harus menjalani masa hukuman empat bulan di dalam penjara.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Tarel terancam hukuman maksimum tiga tahun penjara dan hukuman denda 45 ribu Euro, setelah didakwa atas tindak penyerangan terhadap tokoh publik. Di bawah undang-undang yang berlaku di Prancis, vonis penjara kurang dari dua tahun bisa diubah menjadi hukuman non-penahanan.

Usai vonis dijatuhkan, Tarel langsung memulai masa hukumannya di penjara setempat.

Tarel yang berambut gondrong dan menggemari sejarah abad pertengahan ini menuturkan kepada penyidik bahwa dirinya 'bertindak secara naluriah dan tanpa berpikir' setelah menunggu Macron di luar sebuah sekolah yang dikunjunginya di kota kecil Tain-l'Hermitage.

Lihat video 'Usai Insiden Penamparan, Presiden Prancis Tetap Blusukan':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2