Abaikan PM Kanada, Paus Fransiskus Tak Minta Maaf Soal 215 Jasad Anak

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 12:28 WIB
Vatican City -

Paus Fransiskus menyampaikan rasa sakit yang dirasakan saat mengetahui temuan 215 jasad anak korban penganiayaan di sekolah asrama Kanada yang dikelola Gereja Katolik bertahun-tahun lalu. Namun dia tidak menyampaikan permintaan maaf yang sebelumnya diminta Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (7/6/2021), dalam pernyataannya yang disampaikan kepada umat Katolik yang berkumpul di Alun-alun St Pater, Vatikan, pada Minggu (6/6) waktu setempat, Paus Fransiskus menyerukan otoritas setempat mendorong pemulihan bagi para korban.

Namun, dia tidak menyinggung soal permintaan Trudeau agar Vatikan meminta maaf dan bertanggung jawab.

Bulan lalu, radar penembus tanah berhasil melacak keberadaan 215 jasad anak di halaman bekas sekolah asrama yang dibangun lebih dari satu abad lalu untuk asimilasi masyarakat adat di Kanada. Anak-anak yang jasadnya ditemukan itu diduga merupakan korban penganiayaan.

"Saya dengan rasa sakit mengikuti berita dari Kanada soal temuan jenazah 215 anak yang mengecewakan," ucap Paus Fransiskus dalam pernyataannya.

"Saya bergabung dengan para uskup Kanada dan seluruh Gereja Katolik di Kanada dalam menyampaikan kedekatan saya dengan warga Kanada yang trauma dengan kabar mengejutkan itu," imbuhnya.

"Temuan menyedihkan ini menambah kesedihan dan penderitaan di masa lalu," sebut Paus Fransiskus.

Sekolah bernama Kamloops Indian Residential School itu disebut sebagai yang terbesar dari sekitar 139 sekolah asrama yang dibangun pada akhir abad ke-19, dengan 500 siswa terdaftar dan bersekolah di sana pada suatu waktu. Sekolah itu sempat dioperasikan oleh Gereja Katolik atas nama pemerintah Kanada antara tahun 1890-1969 silam.

Dari abad ke-19 hingga tahun 1970-an, lebih dari 150 ribu anak-anak Indian, Inuit dan Metis dipaksa belajar di sekolah-sekolah asrama tersebut, dalam upaya mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Pemerintah Kanada telah mengakui bahwa penganiayaan fisik dan seksual terjadi di sekolah-sekolah tersebut. Laporan menyebut para siswa dianiaya secara fisik dan seksual oleh kepala sekolah dan para guru yang berupaya melucuti mereka dari budaya serta bahasa mereka.

Trudeau sebelumnya mengkritik Gereja Katolik Roma yang disebutnya 'bungkam' dan 'tidak mengambil tindakan', serta menyerukan Vatikan untuk menyampaikan permintaan maaf secara resmi. Namun dalam pernyataannya, Paus Fransiskus hanya membahas soal pemulihan tanpa menyinggung soal permintaan maaf.

"Semoga otoritas politik dan keagamaan terus berkolaborasi dengan tekad untuk membuka kejelasan dari peristiwa menyedihkan ini dan dengan rendah hati berkomitmen menuju jalur rekonsiliasi dan pemulihan," ujar Paus Fransiskus.

"Momen-momen sulit ini menjadi seruan kuat untuk menjauhkan kita dari model kolonial dan dari ideologi kolonialisasi terkini dan untuk berjalan berdampingan dalam dialog, saling menghormati dan mengakui hak-hak dan nilai-nilai budaya dari semua anak-anak di Kanada," cetusnya.

"Mari kita serahkan kepada Tuhan jiwa semua anak-anak itu, yang meninggal di sekolah asrama Kanada. Mari kita doakan keluarga dan komunitas suku asli Kanada yang diselimuti kesedihan," imbuh Paus Fransiskus.

Pekan lalu, Vatikan tidak memberi komentar saat ditanya soal tuntutan permintaan maaf yang dilontarkan Trudeau.

Namun diketahui bahwa Keuskupan Vancouver secara terpisah menyampaikan permintaan maaf pada Rabu (2/6) waktu setempat. Sementara serikat gereja-gereja, Presbyterian dan Anglikan, juga telah meminta maaf atas peran mereka dalam penganiayaan itu.

(nvc/ita)