Round-up

Petaka di Langit Malaysia Gara-gara Belasan Jet Tempur China

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 23:10 WIB
This handout photo from the Royal Malaysian Air Force taken on May 31, 2021 and released on June 1, 2021 shows a Chinese Peoples Liberation Army Air Force (PLAAF) Ilyushin Il-76 aircraft that Malaysian authorities said was in the airspace over Malaysias maritime zone near the coast of Sarawak state on Borneo island. (Royal Malaysian Air Force via AP)
Foto: Royal Malaysian Air Force via AP

"Pesawat militer China menikmati kebebasan terbang di wilayah udara yang relevan," imbuhnya.

"Selama pelatihan ini, pesawat militer China secara ketat mematuhi hukum internasional yang relevan dan tidak memasuki wilayah udara teritorial negara lain mana pun," tegasnya.

China dan Malaysia disebut tetangga yang bersahabat dan bahwa China bersedia melanjutkan konsultasi persahabatan bilateral dengan Malaysia untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional, kata sang juru bicara.


Petaka di Langit Malaysia Gara-gara Belasan Jet Tempur China

Ruang udara Malaysia tegang karena belasan jet tempur China. Jet tempur China diketahui terdeteksi menuju wilayah udara nasional Malaysia sebelum dicegat.

Dilansir Channel News Asia, Rabu (2/6/2021), dalam sebuah pernyataan, Angkatan Udara Kerajaan Malaysia atau Royal Malaysian Air Force (RMAF) mengatakan telah mengidentifikasi 16 pesawat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) yang melakukan penerbangan mencurigakan di ruang udara zona maritim Malaysia, Kota Kinabalu Flight Information Region (FIR) dan mendekati wilayah udara nasional Malaysia pada Senin (31/5).

Burung besi tempur tersebut teridentifikasi radar pertahanan RMAF di Sarawak pada pukul 11.53 pagi waktu setempat. Dikatakan bahwa pesawat-pesawat militer China mendekati wilayah udara Malaysia dengan "formasi taktis" dan terbang dalam jarak sekitar 60 mil laut dari pantai.

"Pesawat-pesawat terbang dalam formasi itu menggunakan titik masuk dan keluar yang sama. Pesawat kemudian berganti (arah), menuju ruang udara Beting Patinggi Ali yang penting bagi negara," demikian pernyataan RMAF.

Pesawat-pesawat PLAAF terbang melalui FIR Singapura sebelum memasuki ruang udara zona maritim Malaysia dan FIR Kota Kinabalu. Disebutkan bahwa pesawat-pesawat China mendekat dalam jarak 60 mil laut dari pantai Sarawak, "mengancam kedaulatan Malaysia".

Sejumlah jet tempur Hawk 208 dari skuadron No. 6 ditempatkan RMAF dalam siaga tinggi.

"Pesawat-pesawat PLAAF ditempatkan di bawah pengawasan radar lanjutan dan diinstruksikan untuk menghubungi pengawas di FIR Kota Kinabalu. Ketika instruksi ini tidak diindahkan dan pesawat PLAAF melintasi FIR Kota Kinabalu dan menuju wilayah udara nasional, Angkatan Udara Malaysia bergegas mencegat jet pada pukul 13.33 untuk melakukan identifikasi visual," ujar RMAF dalam pernyataannya.

Nota protes kepada pemerintah China akan dilayangkan pemerintah Malaysia. Lalu, apa kata China soal insiden ini?

Kedutaan Besar China di Malaysia mengatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut sedang melakukan pelatihan penerbangan rutin.

"Sejauh yang saya tahu, kegiatan yang dilaporkan adalah pelatihan penerbangan rutin Angkatan Udara China dan tidak menargetkan negara mana pun," kata seorang juru bicara kedutaan China di Kuala Lumpur seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (2/6).

"Sejauh yang saya tahu, kegiatan yang dilaporkan adalah pelatihan penerbangan rutin Angkatan Udara China dan tidak menargetkan negara mana pun," kata seorang juru bicara kedutaan China di Kuala Lumpur seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (2/6/2021).

"Pesawat militer China menikmati kebebasan terbang di wilayah udara yang relevan," imbuhnya.

"Selama pelatihan ini, pesawat militer China secara ketat mematuhi hukum internasional yang relevan dan tidak memasuki wilayah udara teritorial negara lain mana pun," tegasnya.

China dan Malaysia disebut tetangga yang bersahabat dan bahwa China bersedia melanjutkan konsultasi persahabatan bilateral dengan Malaysia untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional, kata sang juru bicara.


(gbr/dwia)