Round-Up

5 Hal dari Kontroversi Pembatasan Pengeras Suara Masjid Arab Saudi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 02 Jun 2021 05:23 WIB
DUBAI, UNITED ARAB EMIRATES - APRIL 14: Muslim men pray at Al Farooq Omar Bin Al Khattab Mosque on April 14, 2021 in Dubai, United Arab Emirates. Muslim men and women across the world observe Ramadan, a month long celebration of self-purification and restraint. During Ramadan, the Muslim community fast, abstaining from food, drink, smoking and sex between sunrise and sunset, breaking their fast with an Iftar meal after sunset.  (Photo by Francois Nel/Getty Images)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Francois Nel)
Riyadh -

Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan peraturan yang memicu kontroversi. Peraturan tersebut terkait pembatasan penggunaan pengeras suara di masjid.

Peraturan Ini tertuang dalam surat edaran yang dirilis oleh Menteri Urusan Islam, Panggilan dan Bimbingan, Sheikh Dr Abullatif bin Abdulaziz Al-Sheikh, pada Minggu (23/5) waktu setempat.

Berikut fakta-fakta terkait kontroversi pembatasan pengeras suara di masjid Arab Saudi:


1. Hanya untuk Azan dan Iqomah

Surat edaran ini dimaksudkan untuk membatasi penggunaan pengeras suara. Pemerintah Arab Saudi menyatakan pengeras suara diperbolehkan hanya untuk azan dan iqomah.

DUBAI, UNITED ARAB EMIRATES - APRIL 14: Muslim men pray at Al Farooq Omar Bin Al Khattab Mosque on April 14, 2021 in Dubai, United Arab Emirates. Muslim men and women across the world observe Ramadan, a month long celebration of self-purification and restraint. During Ramadan, the Muslim community fast, abstaining from food, drink, smoking and sex between sunrise and sunset, breaking their fast with an Iftar meal after sunset.  (Photo by Francois Nel/Getty Images)Foto: Getty Images/Francois Nel


2. Tak Boleh Lebih dari 1/3 Volume

Dalam surat edaran itu bahwa volume untuk pengeras suara eksternal masjid tidak boleh melebihi sepertiga volume maksimalnya.

Menteri Al-Sheikh juga memperingatkan bahwa langkah penindakan akan dilakukan terhadap siapa saja yang melanggar aturan tersebut.


3. Dinilai Mengganggu

Otoritas Arab Saudi menilai pengeras suara eksternal masjid dinilai mengganggu para pasien yang sakit, orang-orang lansia dan anak-anak yang tinggal di sekitar masjid.

Disebutkan juga bahwa akan ada gangguan dalam bacaan dan ritual yang dilakukan oleh para imam masjid. Hal ini disebut bisa memicu kebingungan bagi jemaah di masjid dan bagi warga yang tinggal di sekitar masjid.

Surat edaran itu juga didasarkan pada bukti dari Syariat, yang terpenting adalah hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa seluruh jemaah berdoa dan memohon kepada Allah SWT sehingga mereka tidak boleh mengganggu atau menyebabkan ketidaknyamanan satu sama lain dengan bacaan keras selama salat.

Ini disebut sebagai penerapan dari prinsip yurisprudensi (Fiqhi): "Jangan mengganggu orang lain, orang lain tidak seharusnya mengganggu Anda."

Alasannya adalah suara imam masjid selama salat harus didengar oleh semuanya yang ada di dalam masjid, dan menurut Syariat, tidak perlu suara imam terdengar sampai ke rumah-rumah di luar masjid.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya

Simak juga 'Melihat Masjid di Purwakarta yang Konsisten Tanpa Pengeras Suara':

[Gambas:Video 20detik]