Presiden Mali Ditahan Militer, Sekjen PBB Serukan Pembebasan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 25 Mei 2021 15:09 WIB
Sekjen PBB, Antonio Guterres
Sekjen PBB Antonio Guterres (Foto: Getty Images/Pool)
Jakarta -

Militer Mali menahan presiden, perdana menteri, dan menteri pertahanan interim di negara tersebut, beberapa bulan setelah militer mengudeta pemerintahan pada Agustus 2020.

Sejumlah sumber pemerintah dan diplomat di Mali mengatakan kepada Reuters bahwa Presiden Bah Ndaw, Perdana Menteri Moctar Ouane, dan Menteri Pertahanan Soulemayne Doucoure telah dibawa ke pangkalan militer di Kati.

Militer Mali menahan para pejabat tinggi interim itu setelah dua anggota militer kehilangan jabatannya dalam perombakan kabinet pemerintahan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP Selasa (25/5/2021), Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar para pemimpin sipil di Mali dibebaskan.

"Saya sangat prihatin dengan berita penahanan para pemimpin sipil transisi Mali," kata Guterres di Twitter. "Saya menyerukan ketenangan & pembebasan tanpa syarat mereka," imbuh pemimpin badan dunia itu.

Penahanan para pemimpin sipil ini menambah permasalahan di Mali setelah militer mengudeta pemerintahan Presiden Ibrahim Boubacar Keita pada Agustus 2020. Presiden Bah Ndaw dan Perdana Menteri Moctar Ouane kemudian ditunjuk untuk memimpin pemerintahan interim yang dilantik di bawah ancaman sanksi regional menyusul kudeta tersebut. Penahanan mereka pada Senin (24/5) menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya kudeta kedua.

Dua pejabat senior, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan kepada AFP bahwa militer telah membawa Ndaw dan Ouane ke kamp militer Kati di pinggiran Bamako, ibu kota Mali.

Penahanan mereka menyusul perombakan pemerintah pada Senin (24/5) pagi waktu setempat yang dirancang untuk menanggapi kritik yang berkembang terhadap pemerintah interim.

Simak Video: Presiden, PM, dan Menhan Interim Mali Ditahan Militer

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)