Round-Up

Tentang Gencatan Senjata Israel-Hamas yang Berujung Saling Klaim Menang

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 22 Mei 2021 04:58 WIB
A Israeli soldier takes cover as an Iron Dome air defense system launches to intercept a rocket from the Gaza Strip, in Ashkelon, southern Israel, Tuesday, May 11, 2021. (AP Photo/Ariel Schalit)
Foto: Ilustrasi (AP Photo)
Jakarta -

Israel dan Hamas resmi melakukan gencatan senjata untuk mengakhiri pertempuran selama kurang lebih 11 hari. Meski kedua pihak sudah melakukan gencatan senjata, namun kini muncul kedua pihak saling klaim sebagai kubu yang menang.

Lebih dari 200 orang tewas di Gaza akibat serangan Israel sejak 10 Mei lalu. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/5/2021), jumlah warga Gaza yang tewas akibat gempuran Israel telah bertambah menjadi 232 orang. Hal ini disampaikan kementerian pada Kamis (20/5) waktu setempat saat mengonfirmasi lima kematian baru.

Menurut penghitungan terbaru Kementerian yang dikelola kelompok Hamas tersebut, jumlah korban tewas termasuk 65 anak-anak. Sebanyak 1.900 warga Palestina lainnya terluka akibat gempuran Israel.

Di pihak Israel, menurut otoritas Israel, sebanyak 12 orang tewas akibat tembakan roket Hamas dari Gaza.

Ada Peran Mesir Dibalik Gencatan Senjata Hamas-Israel

Pada Jumat (21/5), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkonfirmasi gencatan senjata dengan Hamas yang menguasai Gaza. Netanyahu menerima usulan gencatan senjata yang ditawarkan Mesir.

"Dengan suara bulat menerima rekomendasi untuk menerima inisiatif Mesir untuk gencatan senjata ... tanpa syarat," ujar Netanyahu seperti dilansir dari AFP, Jumat (21/5/2021).

Hamas mengumumkan gencatan senjata itu berlaku mulai Jumat (21/5) pukul 02.00 waktu setempat. Namun, pemerintah Israel tidak mengumumkan kapan gencatan senjata mulai berlaku.

Hamas dan Israel Saling Klaim Kemenangan

Seorang tokoh senior Hamas mengklaim kemenangan dalam konflik dengan Israel, menyusul tercapainya gencatan senjata. Hal ini disampaikannya pada hari Jumat (21/5) ini di depan ribuan orang di Gaza yang merayakan gencatan senjata.

"Ini adalah euforia kemenangan," kata Khalil al-Hayya, anggota paling senior kedua dari biro politik Hamas di Jalur Gaza, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/5/2021).

Dia juga berjanji untuk membangun kembali rumah-rumah yang hancur akibat serangan udara Israel.

Gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir, disepakati pada Kamis (20/5) malam waktu setempat dan mulai berlaku pada Jumat ini setelah tekanan internasional untuk membendung pertumpahan darah yang meletus awal bulan ini.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, serangan Israel di Gaza sejak 10 Mei telah menewaskan 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak, dan telah melukai 1.900 lainnya.

Daerah yang luas telah menjadi puing-puing dan sekitar 120.000 orang mengungsi, menurut pihak berwenang Hamas.

Militer Israel mengatakan Hamas dan kelompok bersenjata Islam lainnya di Gaza telah menembakkan lebih dari 4.300 roket ke Israel selama konflik. Namun, sebagian besar dari roket-roket yang menuju ke daerah berpenduduk itu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Iron Dome.

Sedangkan Israel dalam pernyataanya mengatakan kampanye udaranya telah membuat pencapaian "yang belum pernah terjadi" di Gaza, wilayah yang diblokade Israel sejak 2007 atau sejak dipimpin Hamas.

"Pimpinan politik menekankan bahwa kenyataan di lapangan lah yang akan menentukan masa depan operasi tersebut," lanjut pemerintah Israel.

Pernyataan yang dikeluarkan kabinet Israel sebelumnya menyebutkan bahwa gencatan senjata itu diusulkan oleh Mesir dan akan berlaku secara "mutual dan tanpa syarat".

Presiden Mesir mengatakan ia akan mengirim delegasi yang akan memantau penerapan gencatan senjata di lapangan.

Pejabat Hamas, Osama Hamdan, dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press mengatakan gencatan senjata dimulai pada Jumat pukul 2.00 dini hari.

Ia mengatakan perundingan gencatan senjata melibatkan Mesir dan Qatar.

Namun ia juga mengatakan Hamas saat ini "tidak kekurangan rudal".

Ia mengatakan serangan terhadap Israel "bisa berlanjut tak hanya hingga beberapa hari atau pekan ke depan, tapi bisa hingga beberapa bulan mendatang".