Kedua Kalinya, Sadiq Khan Jadi Wali Kota Muslim di London

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Minggu, 09 Mei 2021 16:47 WIB
Sadiq Khan, Wali Kota London
Sadiq Khan, Wali Kota Muslim London yang terpilih untuk kedua kalinya (Foto: AP/Victoria Jones)
London -

Politikus dari Partai Buruh, Sadiq Khan kembali memenangkan bursa pemilihan Wali Kota London, Inggris pada Sabtu (8/5). Khan diketahui menjadi Wali Kota Muslim pertama London pada pemilihan 2016 lalu.

Seperti dilansir dari AFP, Minggu (9/5/2021) Khan menang dari pesaingnya Shaun Bailey asal Partai Konservatif dengan meraih 977.601 suara. Kemenangan politisi berusia 50 tahun itu adalah salah satu titik terang bagi partai oposisi utama di Inggris.

Dalam pidato kemenangannya, Khan berjanji akan fokus menjembatani antarkomunitas yang berbeda serta antarbalai kota dan pemerintah. Lebih lanjut dirinya juga ingin memastikan London dapat memainkan perannya dalam pemulihan nasional dan membangun masa depan yang lebih hijau dan lebih cerah.

Ia juga menceritakan asal-usulnya yang tumbuh di sebuah pemukiman etnis campuran di London Selatan.

"Saya dibesarkan di sebuah perkebunan dewan, anak kelas pekerja, anak imigran, tapi sekarang saya Wali Kota London," kata Khan.

Sebelumnya, di masa kampanye, Khan kerap berjanji akan terus bekerja untuk mempertahankan London sebagai kota teratas dunia sambil mengatasi krisis dan dampak dari Brexit, yang mengancam sektor keuangan penting ibu kota Inggris itu.

Diketahui Khan menjadi Wal Kkota ketiga London setelah Ken Livingstone (2000-2008) dan Johnson (2008-2016).

Sosok Khan jadi sorotan usai menjadi kritikus paling vokal terkait keputusan Inggris melepaskan diri dari Uni Eropa atau yang disebut Brexit. Ia juga kerap mengkritik Perdana Menteri Boris Johnson dan sempat berseteru dengan mantan presiden AS Donald Trump.

Saling perang 'kata-kata' terjadi usai Khan mengkritik larangan perjalanan dari negara-negara berpenduduk Muslim ke AS yang dilakukan pemerintahan Trump. Tak tinggal diam, Trump menuduh Khan melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam melawan terorisme dan menyebutnya sebagai pecundang dan aib nasional.

(izt/dhn)