Rusia Tangkap 1.400 Orang dalam Aksi Demo Dukung Alexei Navalny

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 13:32 WIB
Police officers detain a man dressed in a horned, fur hat, and holding Russian flag during a protest against the jailing of opposition leader Alexei Navalny in Moscow, Russia, Saturday, Jan. 23, 2021. Russian police on Saturday arrested hundreds of protesters who took to the streets in temperatures as low as minus-50 C (minus-58 F) to demand the release of Alexei Navalny, the countrys top opposition figure. (AP Photo/Pavel Golovkin)
Foto: AP/Pavel Golovkin
Moskow -

Kepolisian Rusia menangkap lebih dari 1.400 demonstran dalam unjuk rasa mendukung tokoh oposisi Alexei Navalny yang kesehatannya menurun setelah mogok makan di dalam bui. Aksi mendukung Navalny digelar di belasan kota yang berbeda di Rusia.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (22/4/2021), OVD-Info yang merupakan kelompok pemantau aksi protes dan penahanan menuturkan bahwa 1.496 orang ditangkap dalam unjuk rasa di berbagai wilayah, termasuk 622 orang di St Petersburg dan 95 orang di kota Ufa.

"Ini merupakan hembusan napas terakhir dari Rusia yang bebas, seperti dikatakan banyak orang. Kita beraksi untuk Alexei ... melawan perang di Ukraina dan propaganda liar," cetus salah satu mahasiswa bernama Marina yang ikut aksi di Moskow pada Rabu (21/4) waktu setempat.

Para demonstran di Moskow meneriakkan slogan berbunyi 'Kebebasan untuk Navalny!' dan 'Biarkan dokter masuk!' dalam aksinya. Istri Navalny, Yulia, bergabung dengan aksi di Moskow di mana demonstran juga meneriakkan namanya.

Kelompok oposisi Rusia berharap aksi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah modern Rusia dan menampilkannya sebagai upaya menyelamatkan nyawa Navalny dengan membujuk otoritas setempat untuk mengizinkan tim dokternya merawat Navalny secara langsung.

Namun jumlah demonstran tampaknya lebih sedikit dibandingkan aksi pada awal tahun ini sebelum Navalny dijebloskan ke penjara. Kepolisian setempat menyebut 6 ribu orang ikut unjuk rasa ilegal di Moskow. Sedangkan saluran YouTube milik Navalny menyebut jumlahnya mencapai 10 kali lipat lebih banyak dari data polisi.

Navalny tengah menjalani masa hukuman 2,5 tahun penjara yang dijatuhkan setelah dia dinyatakan bersalah melanggar ketentuan pembebasan bersyarat terkait dakwaan penipuan yang menjeratnya sejak lama. Dia menyebut vonis ini didasari motif politik.

Selanjutnya
Halaman
1 2