Dokter Tak Bisa Temui Alexei Navalny yang Dipindah ke RS Penjara

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 16:55 WIB
Disiksa di Penjara, Keluarga Desak Pemerintah Rusia Bebaskan Alexei Navalny
Alexei Navalny (dok. DW News)
Moskow -

Politikus oposisi Rusia, Alexei Navalny, kini menjalani perawatan di rumah sakit penjara setelah kesehatannya dilaporkan menurun drastis. Namun, tim medis yang termasuk dokter pribadi Navalny tidak diizinkan untuk menemuinya.

Seperti dilansir AFP, Selasa (20/4/2021), Navalny (44) melakukan aksi mogok makan sejak 31 Maret lalu. Tim medisnya pada akhir pekan memperingatkan bahwa kondisi kesehatannya menurun drastis sehingga dia bisa meninggal 'kapan saja'.

Dinas Penjara Rusia, yang berulang kali mencegah tim dokter Navalny mengunjunginya, pada Senin (19/4) waktu setempat memindahkannya dari penjara terpencil di wilayah Vladimir, sekitar 100 kilometer sebelah timur Moskow, ke sebuah fasilitas medis di penjara lainnya, tapi masih dalam wilayah yang sama.

Tim dokter termasuk dokter pribadinya, Anastasia Vasilyeva, telah melakukan banyak upaya untuk menemui Navalnya, tapi selalu ditolak otoritas Rusia.

Pada Selasa (20/4) pagi waktu setempat, tim medis Navalny kembali dilarang menemuinya, namun diberitahu untuk mencobanya kembali di kemudian hari.

"Ini sangat tidak menghormati orang-orang yang datang untuk memenuhi tugas kemanusiaan mereka, tugas medis untuk membantu seorang pasien," tutur Vasilyeva kepada AFP.

"Kita sekarang hanya berbicara soal kesehatan dan kehidupan," imbuhnya.

Laporan jurnalis AFP di lokasi menyebut tim pengacara Navalny juga tiba di penjara yang menjadi tempatnya dirawat saat ini dan diperbolehkan masuk.

Navalny tengah menjalani masa hukuman 2,5 tahun penjara yang dijatuhkan karena dia dinyatakan bersalah melanggar ketentuan pembebasan bersyarat terkait dakwaan penipuan yang menjeratnya sebelumnya. Dia menyebut vonis ini didasari motif politik.

Dia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara sepulangnya dari Jerman, tempatnya dirawat selama berbulan-bulan usai diracun dengan agen saraf Novichok. Navalny menyalahkan Presiden Vladimir Putin atas serangan itu, namun Kremlin berulang kali membantahnya.

Aksi mogok makan dilakukan Navalny demi menuntut perawatan medis yang layak terhadap sakit punggung parah dan mati rasa yang dialaminya di penjara.

Tim medis Navalnya pada akhir pekan menuturkan bahwa hasil tes darah menunjukkan level potassium dan creatinine yang tinggi, yang mengindikasikan Navalny bisa mengalami gangguan ginjal dan berisiko terkena serangan jantung.

Namun Dinas Penjara Rusia pada Senin (19/4) waktu setempat, bersikeras menyatakan kondisi Navalny 'memuaskan' meskipun mereka memindahkannya ke fasilitas medis untuk dirawat lebih lanjut.

(nvc/ita)