Round-Up

Jeda Sementara Vaksin Johnson & Johnson Setelah Muncul Pembekuan Darah

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 08:13 WIB
FILE - This September 2020 photo provided by Johnson & Johnson shows a single-dose COVID-19 vaccine being developed by the company. A late-stage study of Johnson & Johnson’s COVID-19 vaccine candidate has been paused while the company investigates whether a study participant’s “unexplained illness” is related to the shot, the company announced Monday, Oct. 12, 2020. (Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File)
Vaksin J&J (Foto: Cheryl Gerber/Courtesy of Johnson & Johnson via AP, File)
Jakarta -

Penggunaan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson (J&J) ditunda sementara usai adanya laporan pembekuan darah di Amerika Serikat (AS). Selain AS, Afrika Selatan, dan Uni Eropa juga melakukan hal serupa.

Seperti dilansir AFP dan BBC, Rabu (14/4/2021) Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengungkap ada enam kasus pembekuan darah yang terdeteksi dari lebih dari 6,8 juta dosis vaksin Johnson & Johnson yang sudah diberikan.

"Satu kasus meninggal dunia, dan satu pasien lainnya dalam kondisi kritis," kata ilmuwan senior FDA, Peter Marks melalui panggilan telepon dengan wartawan.

FDA merekomendasikan jeda sementara "demi kehati-hatian".

Anne Schuchat, seorang pejabat senior di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), menambahkan bahwa risiko pembekuan darah bagi orang-orang yang telah menerima vaksin selama sebulan atau lebih cukup rendah. Sementara bagi yang baru saja menerima vaksin dalam beberapa minggu, mereka harus lebih waspada terkait gejala yang mungkin timbul.

"Bagi orang yang baru mendapat vaksin dalam beberapa minggu terakhir, mereka harus waspada terkait gejala yang mungkin muncul," katanya.

"Jika Anda telah menerima vaksin dan mengalami sakit kepala parah, sakit perut, sakit kaki, atau sesak napas, Anda harus menghubungi penyedia layanan kesehatan," tambahnya.

Mengikuti saran tersebut, semua situs federal di AS telah berhenti menggunakan vaksin sampai penyelidikan lebih lanjut tentang keamanannya selesai.

AS sejauh ini memiliki kasus COVID-19 yang paling tinggi- yakni lebih dari 31 juta - dengan lebih dari 562.000 kematian, tertinggi di dunia.

Simak Video: Vaksin Johnson & Johnson Dihentikan Sementara

[Gambas:Video 20detik]