Marak Pemberitaan Soal Xinjiang, Kedutaan China Angkat Bicara

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 05 Apr 2021 11:04 WIB
Dari sekitar 10  juta Muslim Uighur, sebagian besar menetap di Provinsi Xinjiang, China. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka? Kamera jurnalis memotretnya 3 tahun lalu.
sebagian besar warga muslim Uighur tinggal di Xinjiang (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Kedutaan Besar (Kedubes) Tiongkok (China) di Indonesia mengeluarkan pernyataan terkait pemberitaan mengenai Xinjiang yang marak belakangan ini. Kedubes menyebut laporan pemberitaan tersebut menyerang dan memfitnah Tiongkok, serta menyesatkan publik Indonesia.

"Kami menyatakan keprihatinan atas hal ini, dan ingin menyampaikan klarifikasi terhadap informasi yang beredar," kata juru bicara Kedubes China dalam pernyataan pers yang diterima hari ini, Senin (5/4/2021).

Dalam pernyataannya, pihak kedubes menyatakan Xinjiang adalah sebuah daerah otonom Tiongkok, yang sepanjang sejarahnya merupakan tempat di mana beragam etnik, budaya, dan agama selalu hidup berdampingan. Dalam beberapa puluh tahun terakhir, pembangunan ekonomi dan sosial di Xinjiang telah meraih pencapaian luar biasa. Xinjiang juga mengalami perkembangan signifikan di bidang etnik, agama, dan budaya. Namun pada saat bersamaan, Xinjiang juga menderita akibat aktivitas separatisme, ekstremisme, dan terorisme. Hakikat dari isu-isu terkait Xinjiang adalah masalah penanganan terhadap separatisme, terorisme, dan radikalisasi, dan sama sekali bukanlah masalah hak asasi manusia, etnik, atau agama.

Disebutkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kecil negara Barat memiliki motif politis untuk memusuhi Tiongkok, sehingga menciptakan rumor bohong bahwa Tiongkok melakukan apa yang disebut "penindasan etnik minoritas", "pembatasan kebebasan beragama", dan lain-lain di Xinjiang. Setelah gagal mencapai tujuan politis mereka, mereka selanjutnya merekayasa rumor bohong yang absurd dan sama sekali tidak berdasar, seperti "genosida", "pemandulan paksa", dan "kerja paksa" di Xinjiang.

Namun fakta tidak bisa dibantah. Dalam 40 tahun terakhir, jumlah penduduk etnik Uighur di Xinjiang meningkat dari 5,55 juta menjadi lebih dari 12,7 juta jiwa. Angka harapan hidup rata-rata etnis Uighur juga meningkat dari hanya 30 tahun pada era sebelum 1960-an menjadi 72 tahun saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pertumbuhan populasi etnis Uighur mencapai 25,04 persen, lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan populasi seluruh Xinjiang yang sebesar 13,99 persen, dan tentunya jauh lebih tinggi daripada tingkat pertumbuhan populasi etnik Han yang hanya sebesar 2,0 persen.

"Aspirasi dan kebutuhan para tenaga kerja dari semua etnik di Xinjiang sepenuhnya dihormati. Mereka bebas memilih sendiri pekerjaan dan lokasi kerja mereka masing-masing. Mereka juga menandatangani kontrak kerja legal dengan pihak perusahaan sesuai prinsip kesetaraan dan kesukarelaan, serta mendapatkan upah yang sepadan. Sejak tahun 2018, berbagai perusahaan di Xinjiang maupun provinsi-provinsi lainnya di Tiongkok telah menyerap 151.000 surplus tenaga kerja dengan latar belakang keluarga miskin dari Xinjiang Selatan. Para pekerja ini memperoleh pendapatan rata-rata tahunan sebesar 45.000 yuan (sekitar Rp 99 juta), dan semuanya telah berhasil dientaskan dari kemiskinan," demikian pernyataan pers Kedubes China.

Xinjiang memproduksi kapas berkualitas tinggi, dan pemasukan dari sektor pemetikan kapas terbilang cukup besar. Tenaga kerja pemetik kapas menandatangani kontrak kerja atas dasar kesetaraan, kesukarelaan, dan kesepakatan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemetikan kapas di Xinjiang telah memasuki era "Internet Plus" memanfaatkan mekanisasi tingkat tinggi, dengan rasio mekanisasi dalam proses pemetikan kapas telah mencapai 70 persen. Para petani kapas juga bisa memesan jasa pemetikan secara mekanis melalui aplikasi telepon seluler, bahkan tanpa perlu meninggalkan rumah.

Xinjiang juga menghormati dan melindungi kebebasan beragama sesuai hukum yang berlaku. Umat Muslim dari semua etnik di Xinjiang dijamin kebebasannya menurut keinginan masing-masing dalam menjalankan aktivitas keagamaan secara normal sesuai ajaran agama, peraturan agama, dan adat kebiasaan. Ini termasuk menjalankan ibadah puasa dan merayakan hari raya Islami, baik di masjid maupun di rumah. Pemerintah daerah setempat juga aktif mengelola penerbangan charter agar umat Islam dari semua etnik di Xinjiang dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar.

Simak juga video 'Memori Pemberantasan Terorisme di Xinjiang':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2