Arab Saudi Tawarkan Gencatan Senjata ke Houthi Tapi Ditolak

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 11:30 WIB
Operasi militer pimpinan Arab Saudi melawan pemberontak Houthi di Yaman telah terjadi lebih dari enam tahun terakhir.
Ilustrasi Perang Yaman (Foto: Getty Images)
Riyadh -

Pemerintah Arab Saudi menawarkan gencatan senjata 'komprehensif' yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada kelompok pemberontak Houthi Yaman. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari serangkaian proposal baru untuk mengakhiri konflik enam tahun di Yaman.

Seperti dilansir AFP, Selasa (23/2/2021), tawaran gencatan senjata itu ditolak oleh Houthi. Penolakan ini disampaikan ketika pemberontak yang didukung Iran itu meningkatkan serangan terhadap Saudi - termasuk fasilitas minyaknya - dan terus melancarkan serangan untuk merebut benteng terakhir pemerintah Yaman di wilayah utara.

"Inisiatif itu mencakup gencatan senjata komprehensif di seluruh negeri di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa", demikian isi pernyataan pemerintah Saudi.

Ditambahkan, Saudi juga mengusulkan pembukaan kembali bandara internasional di Sanaa, ibu kota yang dikuasai Houthi, dan memulai kembali negosiasi politik antara pemerintah Yaman dan Houthi.

Lebih lanjut, Arab Saudi menyerukan penyetoran pajak dan pendapatan bea cukai dari kapal yang membawa minyak ke pelabuhan Laut Merah Hodeida - saluran utama untuk bantuan yang sangat dibutuhkan - dalam rekening bersama bank sentral Yaman.

"Kami ingin senjata benar-benar terhenti," kata Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.

"Inisiatif itu akan berlaku segera setelah Houthi menyetujuinya," tambahnya, menyebutnya sebagai "kesempatan untuk mengakhiri krisis" di Yaman.

Pemerintah Yaman menyambut baik inisiatif tersebut, sementara Houthi menepisnya dan menegaskan kembali permintaan mereka agar blokade udara dan laut yang dipimpin Saudi di Yaman dicabut sepenuhnya.

"Arab Saudi harus mengumumkan diakhirinya agresi dan mencabut blokade sepenuhnya," kata juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, dilansir saluran televisi yang dikelola Houthi, Al-Masirah.