Round Up

Kala Media Asing Ungkit Kisah Lama Aprilio Manganang Diprotes Filipina

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 21:45 WIB
Pengadilan Negeri Tondano memutuskan status jenis kelamin Serda Aprilio Perkasa Manganang berganti menjadi laki-laki. Aprilio terlihat bahagia dengan utusan tersebut.
Aprilo Manganang (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Mantan atlet voli Indonesia, Aprilio Manganang, yang didiagnosa mengidap penyakit hipospadia dan menjalani corrective surgery sebelum status jenis kelaminnya ditetapkan oleh pengadilan sebagai laki-laki, juga disoroti oleh media asing.

Diketahui Pada Jumat (19/3) ini, Pengadilan Negeri (PN) Tondano di Sulawesi Utara memutuskan status jenis kelamin Manganang berganti menjadi laki-laki. Dalam putusan yang disampaikan dalam sidang online itu, majelis hakim juga mengabulkan pergantian nama Aprilia Santini Manganang menjadi Aprilio Perkasa Manganang.

Seperti dilansir dari media Rusia, RT, Jumat (19/3/2021), kisah lama Manganang itu diangkat dalam artikel berjudul "Debate breaks out after Indonesian women's volleyball star confirmed to be a MAN".

"Salah satu pemain voli wanita top Indonesia, Aprilia Manganang, telah dikonfirmasi sebagai laki-laki secara biologis, memicu perdebatan online tentang apa artinya bagi penampilan sebelumnya untuk timnya," tulis RT mengawali artikelnya.

Artikel RT mengulas bagaimana Manganang pensiun dari profesinya sebagai atlet tahun 2020 dan bergabung dengan TNI Angkatan Darat. RT mengutip pernyataan TNI AD yang menyebut Manganang bukan transgender, karena berjenis kelamin laki-laki sejak lahir dengan gangguan kesehatan yang disebut hipospadia -- kelainan bentuk kelamin yang dialami bayi laki-laki.

"Status jenis kelamin Aprilia telah sejak lama menjadi topik perdebatan, karena tubuh maskulin sang pemain seringkali menonjol dibanding pemain wanita lainnya, dengan lawan-lawannya terus-menerus mempertanyakan jenis kelamin sang atlet," sebut RT dalam ulasannya.

RT juga mengulas protes yang dilontarkan Filipina untuk jenis kelamin Manganang dalam SEA Games tahun 2015. "Pada SEA Games tahun 2015, tim Filipina meminta penyelenggara melakukan tes jenis kelamin, tapi permohonan mereka ditolak, dengan Aprilia bersikeras bahwa dirinya perempuan," tulis RT.

"Pengungkapan ini memicu perdebatan di media sosial, dengan beberapa pengguna bahkan menyerukan otoritas voli internasional untuk melarang tim Indonesia, yang diduga diuntungkan dari keuntungan tidak adil selama bertahun-tahun dengan seseorang yang secara biologis pria berkompetisi melawan wanita. Namun, yang lainnya, menolak seruan itu," imbuh artikel RT.

Selanjutnya
Halaman
1 2