Asosiasi Muslim Uighur Desak Menlu AS Tuntut China Tutup Kamp di Xinjiang

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 16:58 WIB
China bersikeras kebijakan atas warga Muslim Uighur di Xinjiang tidak ada yang salah dan harus diterapkan dalam jangka waktu yang lama
Ilustrasi (dok. BBC World)
Munich -

Kelompok terbesar yang mewakili warga etnis minoritas Muslim Uighur yang mengasingkan diri menyurati Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken, untuk mendesaknya agar menuntut China menutup kamp-kamp tahanan di wilayah Xinjiang.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (19/3/2021), seruan ini disampaikan sesaat sebelum Blinken menghadiri pertemuan dengan pejabat China di Alaska, yang merupakan pertemuan pertama antara AS dan China sejak Presiden Joe Biden menjabat pada Januari lalu. Pertemuan ini membahas berbagai isu, termasuk soal Xinjiang.

"Pertama dan terutama, sangat penting agar China segera dan tanpa syarat mengakhiri genosida dan kejahatan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Turkestan Timur," tulis Presiden Kongres Uighur Sedunia, Dolkun Isa, dalam suratnya kepada Blinken.

Warga Uighur yang mengasingkan diri diketahui menyebut Xinjiang sebagai Turkestan Timur. Kongres Uighur Sedunia memiliki kantor di Munich, Jerman.

"Itu termasuk agar China menutup seluruh kamp penawanan dan membebaskan tanpa syarat semua yang ditahan secara sewenang-wenang," imbuh surat tersebut.

Disebutkan juga oleh Isa dalam surat itu bahwa China harus mengakhiri kerja paksa di Xinjiang dan wilayah lainnya, serta mengizinkan pemantau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidikinya.

Para aktivis dan pakar PBB menyebut lebih dari 1 juta warga Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya ditahan di kamp-kamp yang tersebar di Xinjiang.

China membantah tuduhan yang menyebut pihaknya melakukan genosida dan menegaskan kamp-kamp itu memberikan pelatihan kejuruan untuk membantu membasmi ekstremisme Islam dan separatisme.

Selanjutnya
Halaman
1 2