Kekerasan Junta Militer Picu Eksodus di Kota Terbesar Myanmar

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 14:18 WIB
Jumlah demonstran yang tewas ditembak dalam unjuk rasa antikudeta terbaru di Myanmar bertambah menjadi enam orang.
Aksi kekerasan di Myanmar picu eksodus besar-besaran (Foto: AP Photo)
Yangon -

Sejumlah jalan di kota terbesar Myanmar, Yangon, tampak dipadati warga yang hendak melarikan diri dari tindakan keras junta militer. Pihak berwenang Thailand mengatakan mereka sedang mempersiapkan masuknya pengungsi Myanmar.

Seperti dilansir AFP, Jumat (19/3/2021) Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari, yang memicu pemberontakan massal dan menimbulkan kampanye kekerasan dan ketakutan. Menurut kelompok pemantau, lebih dari 220 orang telah dipastikan tewas dan 2.000 orang ditahan sejak kudeta.

Pekan ini junta militer juga memberlakukan darurat militer di enam kota kecil di Yangon, bekas ibu kota dan pusat perdagangan negara, yang secara efektif menempatkan hampir dua juta orang di bawah kendali langsung komandan militer.

Sebuah laporan yang dimuat media lokal pada Jumat (19/3) ini, terlihat lalu lintas jalan raya utama menuju utara Yangon dipadati banyak orang. Dilaporkan mereka akan melarikan diri ke daerah pedesaan untuk menghindari kekerasan dan tindakan mematikan pasukan keamanan.

"Saya tidak lagi merasa aman dan terlindungi - beberapa malam saya tidak bisa tidur," kata seorang warga di dekat salah satu distrik tempat pasukan keamanan membunuh pengunjuk rasa pekan ini.

"Saya sangat khawatir kejadian yang lebih buruk terjadi di tempat saya tinggal karena pasukan keamanan membawa orang-orang," kata warga lainnya.

Sejumlah wanita mengatakan kepada AFP bahwa mereka telah membeli tiket bus ke negara bagian asalnya di barat Myanmar dan akan pergi dalam beberapa hari.

Sementara itu, seorang pria berusia 29 tahun yang bekerja sebagai tukang emas di Yangon mengatakan melalui telepon bahwa dia telah meninggalkan kota itu minggu ini karena tindakan keras yang terus menerus.

"Terlalu menyedihkan untuk bertahan," katanya kepada AFP. "Setelah tiba di sini di rumah saya, saya merasa jauh lebih lega dan aman," imbuhnya.

Simak video 'Detik-detik Pengunjuk Rasa Tertembak Saat Ricuh di Myanmar':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2