Pabrik Dibakar, China Khawatirkan Keselamatan Warganya di Myanmar

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 12:52 WIB
Juru Bicara Kemlu China, Zhao Lijian (Situs Kemlu RRC)
Juru Bicara Kemlu China, Zhao Lijian (Foto: Situs Kemlu RRC)
Beijing -

Usai pabrik-pabriknya dijarah dan dibakar di Yangon, pemerintah China menyatakan "sangat khawatir" atas keselamatan warganya di Myanmar. Diketahui aksi serangan itu menambah panas ketegangan yang timbul sejak demonstrasi antikudeta terjadi.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/3/2021) media pemerintah China mengatakan 32 pabrik di pusat komersial Myanmar, Yangon diserang pada hari Minggu (14/3). Serangan itu menyebabkan kerusakan senilai US$ 37 juta (Rp 532 miliar) dan menyebabkan dua karyawan pabrik terluka, ketika pasukan keamanan melancarkan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa yang menewaskan puluhan orang.

Myanmar memberlakukan darurat militer di kota-kota di mana pabrik-pabrik itu berada. Kedutaan Besar China di Yangon menuduh demonstran menyerang pabrik-pabrik tersebut.

Banyak pihak yang terlibat dengan gerakan pro-demokrasi Myanmar percaya bahwa China telah memihak junta militer sejak kudeta 1 Februari melumpuhkan pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi.

China adalah investor utama di Myanmar dan bertaruh besar pada kepentingan strategisnya untuk Belt and Road Initiative, sebuah proyek infrastruktur besar-besaran.

Menjelaskan insiden itu sebagai hal yang "buruk", juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mendesak Myanmar untuk mengambil tindakan untuk "dengan tegas menghindari terulangnya insiden semacam itu".

China "sangat prihatin tentang dampak terhadap keselamatan institusi dan personel China ... tindakan para penjahat ini tidak untuk kepentingan Myanmar dan rakyatnya", katanya.

Zhao mengatakan pasukan keamanan Myanmar telah mengamankan area di sekitar pabrik.

Lihat video '140 Korban Tewas di Myanmar Dalam Aksi Menolak Kudeta Militer':

[Gambas:Video 20detik]