Yordania Larang Pesawatnya Melintas, PM Israel Batal ke UEA

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 14:37 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu disuntik vaksin Pfizer-BioNTech. Ia dan Menteri Kesehatan Israel diketahu jadi yang pertama disuntik vaksin COVID-19 di negara itu.
Benjamin Netanyahu (dok. AP Photo/AMIR COHEN)
Tel Aviv -

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, membatalkan kunjungan bersejarah ke Uni Emirat Arab (UEA) setelah terjadi perselisihan dengan Yordania. Kunjungan dibatalkan karena Yordania sempat tidak mengizinkan pesawat Netanyahu terbang di wilayah udaranya.

Seperti dilansir AFP, Jumat (12/3/2021), Israel menormalisasi hubungan dengan UEA sejak tahun lalu dan terikat perjanjian damai dengan Yordania sejak tahun 1994. Kunjungan Netanyahu ke UEA yang dijadwalkan Kamis (11/3) waktu setempat itu seharusnya menjadi kunjungan pertama sejak kedua negara menjalin hubungan resmi.

"Kunjungannya ditunda karena kesulitan mengkoordinasikan penerbangannya di wilayah udara Yordania," demikian pernyataan kantor PM Israel, membahas soal pembatalan kunjungan ke UEA pada Kamis (11/3) waktu setempat.

Disebutkan dalam pernyataan itu bahwa perselisihan terkait wilayah udara itu terjadi setelah Israel membatalkan kunjungan Putra Mahkota Yordania, Hussein, ke Masjid Al-Aqsa yang dijadwalkan pada Rabu (10/3) waktu setempat. Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Muslim dan Yordania merupakan penjaga kompleks tersebut, yang disebut Haram al-Sharif oleh umat Muslim dan disebut Temple Mount oleh umat Yahudi.

Pernyataan kantor PM Israel menyebut kunjungan Putra Mahkota Yordania dibatalkan menyusul 'perselisihan soal pengaturan keamanan dan keselamatan di situs tersebut'.

Dalam pernyataan terpisah, Netanyahu menuturkan dirinya telah berbicara dengan pemimpin UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed Al-Nahyan, membahas kunjungan yang tertunda.

"Kami sepakat bahwa kami akan segera bertemu, ... dan bahwa UEA akan menginvestasikan US$ 10 miliar dalam investasi di Israel," ucapnya.

Laporan kantor berita UEA, WAM, menyebut dana US$ 10 miliar akan 'diinvestasikan di dalam dan bersama Israel, di berbagai sektor termasuk manufaktur energi, air, luar angkasa, layanan kesehatan dan teknologi pertanian'. Alokasi dana itu, menurut WAM, berasal dari 'pemerintah dan lembaga sektor swasta'.

Selanjutnya
Halaman
1 2