Aktif Beritakan Kudeta, 5 Media di Myanmar Dicabut Izinnya

Isal Mawardi - detikNews
Selasa, 09 Mar 2021 02:35 WIB
A wounded protester is carried during a protest against the military coup in Mandalay, Myanmar, Sunday, Feb. 28, 2021. Security forces in Myanmar used lethal force as they intensified their efforts to break up protests a month after the military staged a coup. At least four people were reportedly killed on Sunday. (AP Photo)
Demonstrasi antikudeta di Myanmar (Foto: AP)
Naypyidaw - 5 perusahaan media di Myanmar dicabut izinnya. Hal itu dikarenakan kelima media tersebut dinilai aktif memberitakan kudeta militer.

Dilansir Reuters, kelima perusahaan itu yakni Mizzima, Myanmar Now, 7-Day, DVB dan Khit Thit Media. Diketahui, kelimanya aktif meliput kudeta sejak awal bulan lalu.

Aksi protes terhadap kudeta yang dilakukan junta militer untuk menggulingkan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari, semakin gencar. Ratusan ribu orang turun ke jalan dan terlibat bentrok dengan petugas keamanan.

Terakhir, 2 demonstran antikudeta di Myanmar kembali tewas setelah menerima tembakan pada Senin (8/3). Aksi protes hari ini dilakukan di tengah kampanye mogok massal yang digaungkan sehingga toko-toko, pabrik dan bank ditutup di kota utama Yangon.

Seorang saksi mata, yang mengaku membantu memindahkan jasad tersebut, mengatakan kepada Reuters, bahwa dua orang ditembak di kepala dan meninggal di tempat. Tiga orang lainnya terluka.

"Betapa tidak manusiawi membunuh warga sipil yang tidak bersenjata," kata saksi yang berusia 20 tahun itu.

"Kita harus memiliki hak untuk memprotes secara damai," cetusnya.

Aksi tolak kudeta militer masih berlangsung di Myanmar. Para demonstran antikudeta pun kembali turun ke jalan menyusul seruan serikat pekerja untuk mogok massalAksi tolak kudeta militer masih berlangsung di Myanmar. Para demonstran antikudeta pun kembali turun ke jalan menyusul seruan serikat pekerja untuk mogok massal (Foto: AP Photo)

Sementara itu, 200 demonstran di Yangon, dikepung petugas keamanan Myanmar. Juru bicara kantor hak asasi PBB Liz Throssell mengatakan sekitar 200 demonstran dikepung di empat jalan utama di daerah Sanchaung di Yangon.

"Daerah itu dikelilingi oleh kontingen besar militer dan ada kekhawatiran bahwa ketika jam malam tiba, pasukan keamanan akan bergerak untuk menangkap semua orang," kata Liz kepada AFP melalui email.

PBB memperkirakan sudah ada sekitar 50 orang yang tewas dan hampir 1800 ditangkap akibat demo antikudeta tersebut.

Simak video 'Penangkapan Jurnalis di Myanmar Bak Penangkapan Teroris':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/isa)